Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 1

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 1

Kegiatan pariwisata awalnya memang merupakan salah satu aktivitas “escape” dari rutinitas sehari-hari setiap individu yang memiliki status sosial tinggi, dengan kata lain pariwisata dahulu diperuntukan bari mereka yang “beruang”. Hal tersebut terlihat di Eropa dan Amerika, wisata dijadikan salah satu killing time activity pada saat akhir pekan setelah terjadinya evolusi industri, yang menggantikan tenaga manusia dengan mesin, dan menganut prinsip Fordism (high-tec, terstandarisasi, dan pertumbuhan ekonomi berbasis produksi masal). Fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia, perbedaannya bukanlah warlok (warga lokal) yang melakukan aktivitas wisata, tetapi warga negara Belanda-lah yang melakukan kegiatan wisata ke Indonesia (mengingat Indonesia masih dalam jajahan Belanda). – selengkapnya kamu dapat baca artikel sebelumnya di  -Sejarah Pariwista Indonesia #1

Tetapi,terdapat perbedaan situasi dan kondisi setelah peristiwa Perang Dunia II (PD II), dimana mobilitas manusia semakin tinggi dengan adanya berbagai moda transportasi. Beberapa alasan mengapa individu melakukan aktivitas wisata setalah PD II (perspektif koloni) selain didukung oleh kemudahan akan infrastruktur transportasi, diantaranya untuk mengenang kembali tempat jajahan dan perasaan penasaran akan dunia luar dari lingkungannya. Oleh karena itu, mucul kepermukaan beberapa kebijakan terkait pariwisata, baik itu dari sisi permintaan (asal wisatawan) maupun sisi penawaran (destinasi wisata), dengan satu tujuan yaitu untuk meningkatkan perekonomian pasca PD II.

Melihat peluang tersebut beberapa ahli mulai mempertimbangkan pariwisata sebagai perspektif untuk meningkatkan perekonomian, hingga pada akhirnya muncul beberapa literatur terkait model perencanaan pariwisata meskipun terbilang masih bias [1] karena terbatasnya pengetahuan pada saat itu. Tidak lama setelah itu, muncul beberapa model perencanaan pariwisata mulai dari literature alternative tourism, soft tourism, zoning hingga tourism as a community industry [2].

#A Model

Model memiliki banyak konotasi, tetapi model disini bukan arti secara harfiah yaitu profesi seseorang (model = peragawati) yang memiliki tugas berpose atau berakting untuk mempromosikan produk dalam suatu media tertentu. Model dalam artikel ini dalam ruang lingkup literatur pariwisata khususnya terkait dari aspek teori dan proses perencanaan pada sistem kepariwistaan [2]. Secara teoritikal, model mencakup keseluruhan sistem dan sub-sistem pariwisata dan diklasifikasikan kedalam tiga model yaitu:

  • Model deskriptif, menjelaskan mengenai komponen dari sistem kepariwisataan;
  • Model eksplanatori, bertujuan untuk menunjukan bagaimana suatu sistem atau sub-sistem bekerja; dan
  • Model prediktif, merupakan pengetahuan akan hubungan dan memprediksi tren dari hasil yang telah di dijelaskan/ kelanjutan dari model ekplanatori.

Sedangkan secara proses, model diklasifikasikan pada:

  • Model subjektif, berdasarkan ada dogma/ kepercayaan atau gaya idiosyncratic/ pandangan terkait sesuatu hal;
  • Model pemecahan masalah, yang merupakan model tradisional yang strukturnya sesuai urutan dari tujuan – menghasilkan beberapa alternative tujuan – altenatif evaluasi, sehingga terdapat beberapa pilihan – dan akhirnya diimplemantasikan; dan
  • Model Integratif, memiliki komplesitas yang tinggi dengan pendekatan berdasarkan sistem teori.

Selanjutnya: Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 2


Sumber:

[1] Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

[2] Murphy, P. E. (1983). Tourism as a community industry—an ecological model of tourism development. Tourism Management, 4(3), 180-193.

[3] Getz, D. (1986). Models in tourism planning: Towards integration of theory and practice. Tourism management7(1), 21-32.

* Publikasi ini merupakan adaptasi dan tinjauan dari jurnal yang ditulis dan dipublikasikan oleh 

Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

0

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *