Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 2

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 2

#B Model Perencanaan Kepariwisataan

Terdapat 15 model sebagai alat yang dapat membantu dalam  merencanakan aktivitas kepariwisataan yang diklasifikasikan kedalam 3 yaitu model teoritikal, prediksi dan proses. Masing-masing model dideskripsikan secara singkat sebagai berikut:

Pendekatan Teoritikal

Seperti yang telah dibahas pada #part 1 bahwa model ini merupakan model yang lingkup pendekatannya terhadap sistem kepariwisataan. Model ini terdiri dari empat pendekatan yaitu pendekatan secara keseluruhan sistem kepariwisataan, geografi (spasial/ temporal), pendekatan psikologi (motivasi dan prilaku), dan dampak (ekonomi, sosial budaya, lingkungan).

#1 Model keseluruhan sistem

Sistem kepariwisataan terbilang memiliki tingkat komplesitas yang cukup tinggi , tapi jangan khawatir, tingkat kompleksitas tersebut dibuat sesederhana mungkin dengan berbagai model (salah satu modelnya dapat dilihat pada Gambar 1). Itulah salah satu kontribusi suatu model yang mengubah hal rumit menjadi sederhana.

Beberapa ahli yang termasuk kedalam kriteria model ini diantaranya:

  • Wolfe (1964) dengan model outdoor recreation system-nya;
  • Mathieson dan Wall (1982) yang menjadikan studi kepariwisataan kedalam tiga komponen umum, yaitu dinamis (permintaan/ demand dan perjalanan), statis (penyediaan fasilitas terkait kegiatan pariwisata selama berada pada destinasi/ supply), dan konsekuensi (terkait dengan dampak akibat kegiatan pariwisata).
  • Leiper (1982), mengembangkan model secara berbasis geografi dimana terdapat dua unsur yaitu daerah asal wisatawan (tourist generating region) dan destinasi wisata (tourist destination region), dimana keduanya saling ketergantungan satu sama lain (Gambar).
  • Sementara itu, Van Doom (1982) menambahkan satu komponen dalam melengkapi sistem kepariwisataan yaitu komponen kebijakan.

 

#2 Model spasial/ temporal

Model ini secara langsung memperlihatkan bahwa kepariwisataan memiliki keterlibatan terkati ruang dan waktu. Beberapa pakar yang mengkaji model ini diantaranya Christhaller (1964), Rajotte (1975) dan Miossec (1976) yang menjelaskan mengenai pengaruh dari distribusi perjalanan wisata dan kawasan resort; Plog (1972), Butler (1980), dan Young (1983) dengan model morpologi suatu kawasan resort, MacCannel (1976) terkait morpologi dari atraksi pariwisata; Pollard (1974) yang mengungkapkan model kawasan berkembang yang bergantung pada aktivitas pariwisata; Smith (1980) mengenai model dimensi spasial dari hubungan wisatawan dan masyarakat setempat; dan model ekonomi dari hubungan perbatasan kawasan perkotaan oleh Hills dan Lungren (1977), Britton (1980).

#3 Model Motivasi dan Prilaku

Model ini menjadi suatu kajian terkait sosial dan psikologi wisatawan maupun penduduk setempat. Para pakar dalam model ini diantaranya: Pearce (1962) yang mengembangkan hubungan akan orisinalitas destinasi pariwisata dengan kesesuaikan berdasarkan persepsi wisatawan sebelum berkungjung; Iso-Ahola (1982) dengan model tipologi dan motivasi wisatawan; Clawson/ Knetsch (1976) dan Fridgen (1984) mengembangkan model psikologi lingkungan terkait kegiatan pariwisata; dan Plog (1972) yang terkenal dengan pembagian karakter wisatawan dalam bagan psychographics.

#4 Model Dampak Ekonomi

Pada dampak ekonomi, metode yang digunakan untuk mengghitung efek pengeluaran dan pemasukan menggunakan model multiplier. Terdapat beberapa konsep yang berbeda dari beberapa pakar terkait model tersebut, diantaranya oleh Duffield and long (1981) dengan diagram multiplier yang mudah dipahami; Lundgren (1973) dengan pengembangan model berdasarkan aktivitas kewirausahaan; dan Pearce (1973) yang terkenal dengan Pearce’s framework untuk menganalisis biaya dan manfaat dari aktivitas pariwisata.

#5 Model Dampak Sosial Budaya

Beberapa model yang berkembang terkait aktivitas pariwisata yang berdampak pada sosial dan budaya diantaranya: perubahan akan tata bahasa oleh White (1974); interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat (Smith: 1982 dan Knox: 1982); perubahan perilaku masyarakat setempat akan kehadiran wisatawan (Doxey: 1975) yang terkenal dengan Doxey’s Irridex; Getz (1983) dengan konsep social multiplier; Kariel dan Kariel (1982) dengan model efek sosial budaya dari kegiatan pariwisata pada pedesaan dan Jafari (1982) dengan model interaktif antara kebudayaan pada destinasi pariwisata (masyarakat setempat) dan daerah asal wisatawan.

#6 Model Dampak Lingkungan

Sedangkan untuk model dampak pada limpungan, Wall and Wright (1977) mengembangkan tipikal dampak lingkungan/ ekologi pada tempat rekreasi wisata khususnya kegiatan di luar ruangan dan Pearce (1981) mengembangkan kerangka kerja untuk penilaian tekanan lingkungan.

#7 Model Integrasi Dampak Pariwisata

Terdapat dua model gabungan dari ketiga model dampak akibat kegiatan pariwisata, yaitu model yang diperkenalkan oleh Duffield dan Long (1981) yang mengembangkan kerangka kerja untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya dampak pada suatu wilayah, dan model yang dikembangkan oleh Council of Europe (1978) terkait kerangka kerja untuk penilaian dampak secara keseluruhan pada kawasan pegunungan.

 

NEXT, PART 3


Sumber:

[1] Hall, C. M. (2008). Tourism planning: policies, processes and relationships. Pearson Education.

[2] Leiper, N. (1979). The framework of tourism: Towards a definition of tourism, tourist, and the tourist industry. Annals of tourism research, 6(4), 390-407.

* Publikasi ini merupakan adaptasi dan tinjauan dari jurnal yang ditulis dan dipublikasikan oleh 

Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

0

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *