Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 3

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 3

Pendekatan Prediksi/ Forcasting

Terdapat lima tipe terkait teknik dalam memprediksikan/ forecasting, satu teknik yaitu deplhi dan penulisan scenario tidak dignakan dalam pendeketan ini karena tidak relevan[1]. Empat tipe teknik tersebut dijadikan sebagai model dalam perencanaan kepariwisataan, berikut penjelasan secara singkat terkait model tersebut.

#8 Model Ekonometrik, Regresi dan diskriminan merupakan analisis yang berasal dari model ini, dengan kata lain sebuah prediksi dilakukan berdasarkan korelasi dari kejadian masa lalu (Loeb, 1982). Model ini dikaji berdasarkan ilmu sosial.

#9 Model Deret Waktu/ Time Series, Wandner dan Van Erden (1980) mengembangkan model ini dengan mengisolasi suatu tren dalam variabel terkait yang digunakan untuk membuat prediksi variabel perjalanan. Variable tersebut dapat menjadi sebuah hipotesa, misalnya tren pada pendapatan menyebabkan perubahan pada permintaan perjalanan.

#10 Model Fisik/ Physical Based

Perjalanan wisata dapat diprediksikan dengan mengukur tingkat kemenarikan suatu destinasi, tingkat emisi dari populasi dan aksesibilitas, sehingga hal tersebut menjadi suatu pola perjalanan wisata (Parks Canada, 1976)

#11 Model Analog Kelistrikan/ Electrical Analogue

Ellis dan Van Doren (1966) mengembangkan model electrical analogue berdasarkan bahwa sistem penawaran dan permintaan sama halnya dengan sistem kelistirkan.

 

Pendekatan Proses Perencanaan/ Manajemen

Subjektif dan pemecahan masalah merupakan dua hal mendasar dalam membentuk model proses (Gambar 1 pada Part #1). Tipe subjektif memiliki landasan berdasarkan dogma atau style, sedangkan tipe pemecahan masalah berdasarkan pemikiran rasional dan alternatif pengambilan keputusan. Pada model ini terdiri dari sub model yaitu: model perkembangan wilayah, pengembangan proyek, manajemen/ pemasaran, dan model perencanaan sebagai suatu konsep sistem.

#12 Model Pengembangan Wilayah, Beberapa pakar dalam dalam model ini yaitu: Gunn (1979) memperkenalkan beberapa model terkait pengembangan wilayah; Lawson dan Baud-Bovy (1977) terkenal dengan model yang disebut PASOLP dan pendekatan yang konperhensif pada pengembangan master plan; Mill dan Morrison (1985) memaparkan bahwa kebijakan dan tujuan pengembangan merupakan hal yang lebih penting daripada pengembangan proyek dan master plan; Bangur dan Arbei (1975) memperkenalkan pendekatan kuantitatif dalam mengoptimalkan pendapatan; dan Arnott (1978) mengilustrasikan sebuah proses dimana dalam mengembangkan strategi pengembangan kawasan pariwisata membutuhkan infrmasi dan menggunakan metode riset.

#13 Model Pengembangan Proyek, Model ini berkaitan dengan pembangunan fasilitas pariwisata, seperti hotel dan komplek resort. Pengambilan keputusan melalui identifikasi dari visi, evaluasi pada alternatif pilihan menjadi hal yang sangat penting (Kaiser dan Helber, 1978)

#14 Model Manajemen/ Pemasaran, model ini terkait dari lingkungan pemasaran, desain dan laju informasi dalam perencanaan sebuah fasilitas pariwisata (Doswell dan Gamble, 1979)

#15 Model Perencanaan sebagai suatu konsep sistem, dalam mengintegrasikan model perencanaan kepariwisataan membutuhkan gabungan dari berbagai elemen teori dan proses/ metode perencanaan/ manajemen. Tetapi hal tersebut tidak dapat digabungan dengan mudah, membutuhkan konsel model pariwisata itu sendiri dalam membantu bagaimana perencanaan dan manajemen dalam prakteknya terkait teori pariwisata.


 

Referehsi

[1] Sheldon, T., dan Var, T. (1982). Tourism Forecasting: The State-of-the-Art, Faculty of Business Administration, Simon Fraser University, Discussion Paper Series No 82-03-04.

* Publikasi ini merupakan adaptasi dan tinjauan dari jurnal yang ditulis dan dipublikasikan oleh 

Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

0

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *