PERWILAYAHAN PARIWISATA JABAR

PERWILAYAHAN PARIWISATA JABAR

Semester pertama tahun 2017 baru aja kita lewati, periode yang tentunya banyak meninggalkan kenangan buat saya pribadi 🙂
Bagaimana dengan kamu?
Gimana perjalanan sejarahmu?
I wish you had a sweat memory ever 🙂


Btw, ini merupakan artikel pertama dalam jurnal 90 hari Geowisata Cekungan Bandung yang merupakan artikel pembuka. Secara umum artikel ini mengenai pemetaan perwilayahan pariwisata Provinsi Jawa Barat. Sebelum masuk kepembahasan, tau kan jumlah kota dan kabupaten di Jawa Barat sekarang? Secara keseluruhan Jabar memiliki 9 Kota dan 18 Kabupaten saat ini, dengan Kab. Pangandaran dibentuk tahun 2012 menjadi kabupaten termuda yang hasil pemekaran dari Kab. Ciamis. Oiya tidak hanya kab. Ciamis yang melakukan pemekaran tetapi Jabar berencana melakukan wilayah pemekaran pada tahun 2020, setelah pada tahun 2000, Prov. Banten, Jabar telah melakukan pemekaran. Terdapat tiga pilihan wilayah pemekaran Jabar yang sudah masuk dalam agenda nasional, yaitu Priangan Timur + Jateng bagian barat (Cilacap dan Brebes), pembagian wilayah Jawa Barat bagian selatan dan utara. (sumber) . Kita nantikan kabar tersebut 3 tahun mendatang.

Jabar melalui RTRW 2009-2029 memiliki 6 kawasan andalan sistem nasional yang 5 diantaranya sektor pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan, yaitu kawasan Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur dks.); kawasan Sukabumi dsk.; Kawasan Purwasuka (Purwakarta, Subang, Karawang); Kawasan Cekungan Bandung; dan Kawasang Priangan Timur-Pangandaran). Untuk menindaklanjuti arahan wilayah pengambangan (WP), maka pada tahun 2015 Jabar mengeluarkan kebijakan terkait perencanaan kepariwisataan yaitu RIPPARPROV (Rendana Induk Pengembangan Kepariwisataan) Tahun 2015-2025 yang menargetkan sektor pariwisata berkontribusi terhadap PAD sebesar 10% (2019) dan 15% (2025) dengan memberikan arahan kebijakan terkait pembagian destinasi pariwisata Provinsi Jawa Barat menjadi 5 Destinasi Pariwisata Provinsi (DPP) yaitu:

  1. Destinasi Pariwisata Bogor – Cianjur – Sukabumi, dengan Kota Bogor sebagai pusat DPP Daerah;
  2. Destinasi Pariwisata Karawang – Bekasi dengan Kabupaten Bekasi sebagai pusat DPP Daerah;
  3. Destinasi Pariwisata Cirebon Raya, dengan Kota Cirebon sebagai pusat DPP Daerah;
  4. Destinasi Pariwisata Cekungan Bandung, dengan Kota Bandung pusat DPP Daerah; dan
  5. Destinasi Pariwisata Pangandaran – Tasikmalaya – Garut – Cianjur, dengan Kabupaten Pangandaran seabgai pusat DPP Daerah.

Peta perwilayahan pariwisata Provinsi Jawa Barat (RIPPARPROV Jabar, 2015)

Agak samar memang legenda dari peta diatas, tapi saya beri kemudahan membaca dan memahaminya secara umum.

  • Garis hitam putus-putus, artinya destinasi pariwisata provinsi Jabar. Yup seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Jabar memiliki 5 destinasi pariwisata provinsi.
  • Garis merah, garis ini menunjukan Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi (KSPP). Kawasan ini berperan penting dalam aktivitas pariwisata atau memiliki potensi pengembangan pariwisata yang secara khusus berpengaruh terhadap pembangunan keberlanjutan (sustainable development).
  • Garis biru navy, garis ini artinya Kawasan Pengembangan Pariwisata Provinsi (KPPP). Kawasan ini memiliki potensi untuk dijadikan kawasan pariwisata yang secara khusus memiliki karakter serta tema pariwisata alam, budaya, dan buatan.
  • Lingkaran kuning artinya Daya Tarik Wisata (DTW),lingkaran kuning tsb. diklasifikasikan kedalam 2 kategori, yaitu DTW primer (lingkaran kuning dengan tepian garis merah) dan DTW Sekunder (lingkaran kuning dengan garis hitam putus-putus).

Singkatnya, perwilayahan pariwisata Jabar terbagi menjadi 5 DPP, 9 KSPP, dan 8 KPPP. Untuk jumlah DTW primer dan sekundernya, boleh lah yang kamu hitung satu-satu di Perdanya 🙂

Perda RIPPARPROV Jabar 2015-2025, kmu bisa download di sini.


DPP KSPP KPPP
Destinasi pariwisata Bogor-Cianjur- Sukabumi 1.      Kawasan strategis ekowisata alam puncak dan sekitarnya.

2.      Kawasan strategis geowisata Pelabuhanratu-Ciletuh-Ujunggenteng dan sekitarnya.

3.      Kawasan Strategis pariwisata cagar budaya Cianjur-Sukabumi dan sekitarnya.

1.      Kawasan pengembangan pariwisata alam perkotaan Bogor-Depok dan sekitarnya

2.      Kawasan pengembangan ekowisata dan budaya Gunung Halimun-Salak-Gede Pangrango, dan sekitarnya.

Destinasi pariwisata Karawang-Bekasi 4.      Kawasan strategis pariwisata industro Bekasi-Karawang dan sekitarnya. 3.      Kawasan pengembangan pariwisata heritage Karawang-Bekasi dan sekitarnya.
Destinasi Pariwisata Cirebon Raya

 

5.      Kawasan Strategis Pariwisata Sejarah dan Keraton di Cirebon dan sekitarnya

 

4.      Kawasan Pengembangan Pariwisata Pantai Utara Subang-Indramayu

5.      Kawasan Pengembangan Ekowisata Alam Pegunungan Majalengka-Kuningan dan sekitarnya

Destinasi Pariwisata Cekungan Bandung 6.      Kawasan strategis pariwisata kreatif Bandung dan sekitarnya

7.      Kawasan strategis pariwisata alam Bandung Selatan-Garut dan sekitarnya.

6.      Kawasan pengembangan agrowisata perkebunan Subang-Purwakarta dan sekitarnya.

7.      Kawasan pengembangan pariwisata pendidikan berbasis alam Bandung Barat-Purwakarta dan sekitarnya.

Destinasi Pariwisata Pangandaran- Tasikmalaya-Garut-Cianjur

 

8.      Kawasan Strategis Budaya Priangan dan Alam Bahari di Priangan dan sekitarnya

9.      Kawasan Strategis Ekowisata Pantai Apra-Cipatujah dan sekitarnya

8.      KawasanPengembangan Pariwisata Kriyadan Budaya Tasikmalaya dan sekitarnya

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 3

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 3

Pendekatan Prediksi/ Forcasting

Terdapat lima tipe terkait teknik dalam memprediksikan/ forecasting, satu teknik yaitu deplhi dan penulisan scenario tidak dignakan dalam pendeketan ini karena tidak relevan[1]. Empat tipe teknik tersebut dijadikan sebagai model dalam perencanaan kepariwisataan, berikut penjelasan secara singkat terkait model tersebut.

#8 Model Ekonometrik, Regresi dan diskriminan merupakan analisis yang berasal dari model ini, dengan kata lain sebuah prediksi dilakukan berdasarkan korelasi dari kejadian masa lalu (Loeb, 1982). Model ini dikaji berdasarkan ilmu sosial.

#9 Model Deret Waktu/ Time Series, Wandner dan Van Erden (1980) mengembangkan model ini dengan mengisolasi suatu tren dalam variabel terkait yang digunakan untuk membuat prediksi variabel perjalanan. Variable tersebut dapat menjadi sebuah hipotesa, misalnya tren pada pendapatan menyebabkan perubahan pada permintaan perjalanan.

#10 Model Fisik/ Physical Based

Perjalanan wisata dapat diprediksikan dengan mengukur tingkat kemenarikan suatu destinasi, tingkat emisi dari populasi dan aksesibilitas, sehingga hal tersebut menjadi suatu pola perjalanan wisata (Parks Canada, 1976)

#11 Model Analog Kelistrikan/ Electrical Analogue

Ellis dan Van Doren (1966) mengembangkan model electrical analogue berdasarkan bahwa sistem penawaran dan permintaan sama halnya dengan sistem kelistirkan.

 

Pendekatan Proses Perencanaan/ Manajemen

Subjektif dan pemecahan masalah merupakan dua hal mendasar dalam membentuk model proses (Gambar 1 pada Part #1). Tipe subjektif memiliki landasan berdasarkan dogma atau style, sedangkan tipe pemecahan masalah berdasarkan pemikiran rasional dan alternatif pengambilan keputusan. Pada model ini terdiri dari sub model yaitu: model perkembangan wilayah, pengembangan proyek, manajemen/ pemasaran, dan model perencanaan sebagai suatu konsep sistem.

#12 Model Pengembangan Wilayah, Beberapa pakar dalam dalam model ini yaitu: Gunn (1979) memperkenalkan beberapa model terkait pengembangan wilayah; Lawson dan Baud-Bovy (1977) terkenal dengan model yang disebut PASOLP dan pendekatan yang konperhensif pada pengembangan master plan; Mill dan Morrison (1985) memaparkan bahwa kebijakan dan tujuan pengembangan merupakan hal yang lebih penting daripada pengembangan proyek dan master plan; Bangur dan Arbei (1975) memperkenalkan pendekatan kuantitatif dalam mengoptimalkan pendapatan; dan Arnott (1978) mengilustrasikan sebuah proses dimana dalam mengembangkan strategi pengembangan kawasan pariwisata membutuhkan infrmasi dan menggunakan metode riset.

#13 Model Pengembangan Proyek, Model ini berkaitan dengan pembangunan fasilitas pariwisata, seperti hotel dan komplek resort. Pengambilan keputusan melalui identifikasi dari visi, evaluasi pada alternatif pilihan menjadi hal yang sangat penting (Kaiser dan Helber, 1978)

#14 Model Manajemen/ Pemasaran, model ini terkait dari lingkungan pemasaran, desain dan laju informasi dalam perencanaan sebuah fasilitas pariwisata (Doswell dan Gamble, 1979)

#15 Model Perencanaan sebagai suatu konsep sistem, dalam mengintegrasikan model perencanaan kepariwisataan membutuhkan gabungan dari berbagai elemen teori dan proses/ metode perencanaan/ manajemen. Tetapi hal tersebut tidak dapat digabungan dengan mudah, membutuhkan konsel model pariwisata itu sendiri dalam membantu bagaimana perencanaan dan manajemen dalam prakteknya terkait teori pariwisata.


 

Referehsi

[1] Sheldon, T., dan Var, T. (1982). Tourism Forecasting: The State-of-the-Art, Faculty of Business Administration, Simon Fraser University, Discussion Paper Series No 82-03-04.

* Publikasi ini merupakan adaptasi dan tinjauan dari jurnal yang ditulis dan dipublikasikan oleh 

Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 2

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 2

#B Model Perencanaan Kepariwisataan

Terdapat 15 model sebagai alat yang dapat membantu dalam  merencanakan aktivitas kepariwisataan yang diklasifikasikan kedalam 3 yaitu model teoritikal, prediksi dan proses. Masing-masing model dideskripsikan secara singkat sebagai berikut:

Pendekatan Teoritikal

Seperti yang telah dibahas pada #part 1 bahwa model ini merupakan model yang lingkup pendekatannya terhadap sistem kepariwisataan. Model ini terdiri dari empat pendekatan yaitu pendekatan secara keseluruhan sistem kepariwisataan, geografi (spasial/ temporal), pendekatan psikologi (motivasi dan prilaku), dan dampak (ekonomi, sosial budaya, lingkungan).

#1 Model keseluruhan sistem

Sistem kepariwisataan terbilang memiliki tingkat komplesitas yang cukup tinggi , tapi jangan khawatir, tingkat kompleksitas tersebut dibuat sesederhana mungkin dengan berbagai model (salah satu modelnya dapat dilihat pada Gambar 1). Itulah salah satu kontribusi suatu model yang mengubah hal rumit menjadi sederhana.

Beberapa ahli yang termasuk kedalam kriteria model ini diantaranya:

  • Wolfe (1964) dengan model outdoor recreation system-nya;
  • Mathieson dan Wall (1982) yang menjadikan studi kepariwisataan kedalam tiga komponen umum, yaitu dinamis (permintaan/ demand dan perjalanan), statis (penyediaan fasilitas terkait kegiatan pariwisata selama berada pada destinasi/ supply), dan konsekuensi (terkait dengan dampak akibat kegiatan pariwisata).
  • Leiper (1982), mengembangkan model secara berbasis geografi dimana terdapat dua unsur yaitu daerah asal wisatawan (tourist generating region) dan destinasi wisata (tourist destination region), dimana keduanya saling ketergantungan satu sama lain (Gambar).
  • Sementara itu, Van Doom (1982) menambahkan satu komponen dalam melengkapi sistem kepariwisataan yaitu komponen kebijakan.

 

#2 Model spasial/ temporal

Model ini secara langsung memperlihatkan bahwa kepariwisataan memiliki keterlibatan terkati ruang dan waktu. Beberapa pakar yang mengkaji model ini diantaranya Christhaller (1964), Rajotte (1975) dan Miossec (1976) yang menjelaskan mengenai pengaruh dari distribusi perjalanan wisata dan kawasan resort; Plog (1972), Butler (1980), dan Young (1983) dengan model morpologi suatu kawasan resort, MacCannel (1976) terkait morpologi dari atraksi pariwisata; Pollard (1974) yang mengungkapkan model kawasan berkembang yang bergantung pada aktivitas pariwisata; Smith (1980) mengenai model dimensi spasial dari hubungan wisatawan dan masyarakat setempat; dan model ekonomi dari hubungan perbatasan kawasan perkotaan oleh Hills dan Lungren (1977), Britton (1980).

#3 Model Motivasi dan Prilaku

Model ini menjadi suatu kajian terkait sosial dan psikologi wisatawan maupun penduduk setempat. Para pakar dalam model ini diantaranya: Pearce (1962) yang mengembangkan hubungan akan orisinalitas destinasi pariwisata dengan kesesuaikan berdasarkan persepsi wisatawan sebelum berkungjung; Iso-Ahola (1982) dengan model tipologi dan motivasi wisatawan; Clawson/ Knetsch (1976) dan Fridgen (1984) mengembangkan model psikologi lingkungan terkait kegiatan pariwisata; dan Plog (1972) yang terkenal dengan pembagian karakter wisatawan dalam bagan psychographics.

#4 Model Dampak Ekonomi

Pada dampak ekonomi, metode yang digunakan untuk mengghitung efek pengeluaran dan pemasukan menggunakan model multiplier. Terdapat beberapa konsep yang berbeda dari beberapa pakar terkait model tersebut, diantaranya oleh Duffield and long (1981) dengan diagram multiplier yang mudah dipahami; Lundgren (1973) dengan pengembangan model berdasarkan aktivitas kewirausahaan; dan Pearce (1973) yang terkenal dengan Pearce’s framework untuk menganalisis biaya dan manfaat dari aktivitas pariwisata.

#5 Model Dampak Sosial Budaya

Beberapa model yang berkembang terkait aktivitas pariwisata yang berdampak pada sosial dan budaya diantaranya: perubahan akan tata bahasa oleh White (1974); interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat (Smith: 1982 dan Knox: 1982); perubahan perilaku masyarakat setempat akan kehadiran wisatawan (Doxey: 1975) yang terkenal dengan Doxey’s Irridex; Getz (1983) dengan konsep social multiplier; Kariel dan Kariel (1982) dengan model efek sosial budaya dari kegiatan pariwisata pada pedesaan dan Jafari (1982) dengan model interaktif antara kebudayaan pada destinasi pariwisata (masyarakat setempat) dan daerah asal wisatawan.

#6 Model Dampak Lingkungan

Sedangkan untuk model dampak pada limpungan, Wall and Wright (1977) mengembangkan tipikal dampak lingkungan/ ekologi pada tempat rekreasi wisata khususnya kegiatan di luar ruangan dan Pearce (1981) mengembangkan kerangka kerja untuk penilaian tekanan lingkungan.

#7 Model Integrasi Dampak Pariwisata

Terdapat dua model gabungan dari ketiga model dampak akibat kegiatan pariwisata, yaitu model yang diperkenalkan oleh Duffield dan Long (1981) yang mengembangkan kerangka kerja untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya dampak pada suatu wilayah, dan model yang dikembangkan oleh Council of Europe (1978) terkait kerangka kerja untuk penilaian dampak secara keseluruhan pada kawasan pegunungan.

 

NEXT, PART 3


Sumber:

[1] Hall, C. M. (2008). Tourism planning: policies, processes and relationships. Pearson Education.

[2] Leiper, N. (1979). The framework of tourism: Towards a definition of tourism, tourist, and the tourist industry. Annals of tourism research, 6(4), 390-407.

* Publikasi ini merupakan adaptasi dan tinjauan dari jurnal yang ditulis dan dipublikasikan oleh 

Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 1

Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 1

Kegiatan pariwisata awalnya memang merupakan salah satu aktivitas “escape” dari rutinitas sehari-hari setiap individu yang memiliki status sosial tinggi, dengan kata lain pariwisata dahulu diperuntukan bari mereka yang “beruang”. Hal tersebut terlihat di Eropa dan Amerika, wisata dijadikan salah satu killing time activity pada saat akhir pekan setelah terjadinya evolusi industri, yang menggantikan tenaga manusia dengan mesin, dan menganut prinsip Fordism (high-tec, terstandarisasi, dan pertumbuhan ekonomi berbasis produksi masal). Fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia, perbedaannya bukanlah warlok (warga lokal) yang melakukan aktivitas wisata, tetapi warga negara Belanda-lah yang melakukan kegiatan wisata ke Indonesia (mengingat Indonesia masih dalam jajahan Belanda). – selengkapnya kamu dapat baca artikel sebelumnya di  -Sejarah Pariwista Indonesia #1

Tetapi,terdapat perbedaan situasi dan kondisi setelah peristiwa Perang Dunia II (PD II), dimana mobilitas manusia semakin tinggi dengan adanya berbagai moda transportasi. Beberapa alasan mengapa individu melakukan aktivitas wisata setalah PD II (perspektif koloni) selain didukung oleh kemudahan akan infrastruktur transportasi, diantaranya untuk mengenang kembali tempat jajahan dan perasaan penasaran akan dunia luar dari lingkungannya. Oleh karena itu, mucul kepermukaan beberapa kebijakan terkait pariwisata, baik itu dari sisi permintaan (asal wisatawan) maupun sisi penawaran (destinasi wisata), dengan satu tujuan yaitu untuk meningkatkan perekonomian pasca PD II.

Melihat peluang tersebut beberapa ahli mulai mempertimbangkan pariwisata sebagai perspektif untuk meningkatkan perekonomian, hingga pada akhirnya muncul beberapa literatur terkait model perencanaan pariwisata meskipun terbilang masih bias [1] karena terbatasnya pengetahuan pada saat itu. Tidak lama setelah itu, muncul beberapa model perencanaan pariwisata mulai dari literature alternative tourism, soft tourism, zoning hingga tourism as a community industry [2].

#A Model

Model memiliki banyak konotasi, tetapi model disini bukan arti secara harfiah yaitu profesi seseorang (model = peragawati) yang memiliki tugas berpose atau berakting untuk mempromosikan produk dalam suatu media tertentu. Model dalam artikel ini dalam ruang lingkup literatur pariwisata khususnya terkait dari aspek teori dan proses perencanaan pada sistem kepariwistaan [2]. Secara teoritikal, model mencakup keseluruhan sistem dan sub-sistem pariwisata dan diklasifikasikan kedalam tiga model yaitu:

  • Model deskriptif, menjelaskan mengenai komponen dari sistem kepariwisataan;
  • Model eksplanatori, bertujuan untuk menunjukan bagaimana suatu sistem atau sub-sistem bekerja; dan
  • Model prediktif, merupakan pengetahuan akan hubungan dan memprediksi tren dari hasil yang telah di dijelaskan/ kelanjutan dari model ekplanatori.

Sedangkan secara proses, model diklasifikasikan pada:

  • Model subjektif, berdasarkan ada dogma/ kepercayaan atau gaya idiosyncratic/ pandangan terkait sesuatu hal;
  • Model pemecahan masalah, yang merupakan model tradisional yang strukturnya sesuai urutan dari tujuan – menghasilkan beberapa alternative tujuan – altenatif evaluasi, sehingga terdapat beberapa pilihan – dan akhirnya diimplemantasikan; dan
  • Model Integratif, memiliki komplesitas yang tinggi dengan pendekatan berdasarkan sistem teori.

Selanjutnya: Model Perencanaan Kepariwisataan #Part 2


Sumber:

[1] Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

[2] Murphy, P. E. (1983). Tourism as a community industry—an ecological model of tourism development. Tourism Management, 4(3), 180-193.

[3] Getz, D. (1986). Models in tourism planning: Towards integration of theory and practice. Tourism management7(1), 21-32.

* Publikasi ini merupakan adaptasi dan tinjauan dari jurnal yang ditulis dan dipublikasikan oleh 

Getz, D. (1984). Tourism, community organization and the social multiplier. Leisure, tourism and social change., 85-100.

PLOG

PLOG

Adalah seorang psikolog asal Amerika yang memperkenalkan teori psikologi wisatawan, relevansi teori tersebut masih dipakai hingga saat ini. Konsep Psychology of Tourists yang dipublikasikan pada tahun 1973 memiliki peran yang sangat penting dalam mengklasifikasikan tipe wisatawan, psychocentric dan allocentric.

Secara psikologi terdapat wisatawan yang kurang nyaman dengan lingkungan atau budaya baru/ unfamiliar. Hal tersebut berpengaruh terhadap perencanaan liburannya, mereka akan mencari tempat yang familiar/ mainstream. Tipikal wisatawan tersebut adalah psycho-centric. Sedangkan kelompok lain yang suka akan tantangan dalam mencari destinasi baru yang masih jarang bahkan belum pernah di datangi oleh banyak orang atau dengan kata lain mencari tempat yang unfamiliar/ antimainstream, mereka bertipikal wisatawan allocentric.

Seorang psychocentric tidak akan melakukan perjalanan yang jauh dari lingkungan rumahnya/ lingkungan yang dia kenal, sementara seorang allocentric akan bepergian jauh ke suatu tempat yang mereka belum pernah datangi.

Diluar pengklasifikasian tersebut, terkadang terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran wisatawan satu sama lain. Salah satu contoh, seorang psychocentric akan menjadi allocentric ketika tidak terdapat akomodasi (hotel) pada destinasi yang dituju sehingga dia bermalam di homestay/ rumah warga/ tenda. Posisi tersebut disebut midcentric.


Source: Plog, 1973


5 faktor yang mempengaruhi karakteristik wisatawan:

#1 Segment Pasar

Psychocentric, menghindari resiko, ketergantungan, mencari kenyamanan. Allocentric, suka akan tantangan, mencari pengalaman baru, travel with passion

#2 Daya Tarik Wisata

Psychocentric, based on built attraction such as theme park, city tour and other favorable, while Allocentric prefer traveling to authentic destination such as historical, cultural and nature with strong interaction to local residents

#3 Akomodasi

Psychocentric, hotel atau resort yang memilki brand chain internasional/ lokal, sementara Allocentric lebih memilih akomodasi dalam skala yang kecil seperti homestay, bed and breakfast hingga tenda.

#4 Status Ekonomi

Psychocentric, cenderung mendominasi destinasi secara perlahan. Allocentric, memilki pengaruh linkage yang kuat dan meminimalisir leakage.

#5 Regulasi

Psychocentric, support for free market with short term profitability dan dominasi oleh perusahaan. Allocentric, actually monitored by local community.

 

Jadi, Kamu ingin membuat infografik?

Jadi, Kamu ingin membuat infografik?

 

Infrografik atau visualisasi data adalah salah satu cara yang efektif untuk mengkomunikasikan sebuah informasi. Ya, infografik memang sangat berguna dan sangat beautiful. Infografik akan lebih efektif dimana dilakukan dengan perancanaan dan monitoring yang tepat.

Berikut terdapat 4 tahapkreatif dalam membuat infografik yang informatif dan nyaman dilihat mata, semoga bermanfaat.

#1 BRAINSTORMING

Tahap pertama dari semua proses kreatif, Brainstorming. Pahami informasi sperti apa yang Kamu punya: apakah bertipe spasial? Krinologi? Kuantitatif? Atau gabungan dari ketiganya? Mengidentifikasi sebuah data dapat membati Kamu dan tim desain dalam menentukan mau seperti apa nantinya infografik yang Kamu butuhkan. Sebelum memikirkan mengenai “mau didesain seperti apa infografisnya?” Kamu harus tau betul apa tujuan Kamu membuat infografik tersebut.

Bekerjalah dengan team kamu dalam merumuskan gagasan yang brilian untuk infografik. Beberapa pertanyaan berikut dapat membantumu:

  1. Berapa banyak data yang kamu punya?
  2. Elemen dasar apa yang akan Kamu gunakan?
  3. Melalui infografik, kamu ingin menginformasikan apa mengajak/ persuasi?
  4. Siapa segment utamanya?
  5. Apa inti dari infografik yang Kamu buat?

 

# SELEKSI DATA

Memilah data yang akan disajikan memang harus menjadi suatu upaya bersama-sama antara tim yang mendesign data dan mensupply data. Bagaimana selera Kamu dan selera segmen yang akan kamu bidik mengenai penyajian data menentukan keberhasilan infografik kamu. Terdapat 3 tipe penyajian data yaitu:

  • Diagram, digunakan untuk mengilustrasikan garis waktu dari sebuah kejadian, proses step by step, atau rangkaian kegiatan dan hubungan sebab akibat.
  • Map, digunakan untuk mendemonstrasikan sebuah lokasi dari sesuatu dalam hubungannya kepada sesuatu hal lainnya atau sajian data kuantitatif terkait lokasi geografis.
  • Chart, digunakan untuk menunjukan ukuran dinamika. Hubungan distribusi atau proses organisasi

 

# DESAIN DAN PERENCANAAN

Jalin hubungan dengan seseorang yang memiliki keahlian dalam komunikasi digital terkait urusan publik. Atur meeting bersamanya dan diskusikan terkait rencana skala komunikasi untuk infografikmu. Dengan itu kamu dapat menciptakan bahkan mengimplementasikan suatu infografik yang tepat sasaran. Disaat infografik ter-schedule dengan mantap, temanmu yang ahli dalam komunikasi digital akan mendesain infografikmu berdasarkan data yang tersedia.

 

# DLL

  • Buat sebuah cerita. Semua cerita pasti memiliki awal dan akhir. Disaat menulis konten infografik, identifikasi isu serta dukungan data yang tersedia dan akhiri dengan kesimpulan dari infografikmu.
  • Integrasikan antara tim komunikasi digital dan desain. Tidak disarankan untuk melakukan proses desain terlebih dahulu sebelum tim komunikasi digital membuat perencanaan dan ringkasan kreatif.
  • Siapkan sebanyak mungkin informasi dengan segera dan lakukan rancangan tersebut lalu lakukan pertimbangan mengenai perspektif orang lain mengenai data yang akan kamu sajikan.
  • Jangan lupa menampilkan sumber data yang akan kamu sajikan dalam infografik.

 

Pariwisata Kreatif dan Pemasaran Museum sebagai Destination Branding Museum Geologi Bandung

Pariwisata Kreatif dan Pemasaran Museum sebagai Destination Branding Museum Geologi Bandung

Shandra Rama Panji Wulung

Muhamad Haris Insan Kamil

Rakotonindrina Onjaharimanana

Program Magister Perencanaan Kepariwisataan

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan

Institut Teknologi Bandung

panjiwulung@students.itb.ac.id

95716010@students.itb.ac.id

128onjah@students.itb.ac.id


Abstrak

Museum merupakan tempat bagi para wisatawan untuk mengetahui benda, kejadian dan hasil penelitian terdahulu. Motivasi wisatawan mengunjungi museum selain untuk pengalaman baru, pembelajaran, rekreasi dan hiburan. Peran museum yaitu sebagai sumber budaya dan ekonomi bagi suatu kota. Salah satu museum yang terletak di Kota Bandung yaitu Museum Geologi yang sudah ada sejak zaman Belanda. Eksistensi Museum Geologi hingga saat ini didukung oleh aktivitas pariwisata kreatif dan pemasaran yang efektif sebagai jawaban akan dinamika persaingan sebagai destinasi pariwisata. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas pariwisata kreatif yang dilakukan Museum Geologi melalui strategi pemasaran dalam program-program acara untuk memposisioningkan sebagai destination branding Kota Bandung. Sedangkan metodologi kajian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan perolehan data primer yang diperoleh melalui kegiatan survei dan wawancara. Sedangkan perolehan data sekunder melalui hasil studi terhadap berbagai kajian yang penah dilakukan terkait destinasi pariwisata dan topik kajian, khususnya mengenai pemasaran museum melalui pariwisata kreatif pada Museum Geologi Bandung. Pariwisata kreatif Museum Geologi dibagi menjadi dua klasifikasi yaitu kreatifitas sebagai aktivitas dan latar belakang dimana keterlibatan wisatawan melalui event, jaringan, hubungan dan kewirausahaan. Sedangkan hasil temuan pemasaran Museum Geologi dapat dilihat dari unsur produk, harga, promosi, distribusi dan manajemen yang saling berkesinambungan. Aktivitas dari pariwisata kreatif melalui pemasaran museum menciptakan suatu merek destinasi Museum Geologi yang berlokasi di Kota Bandung.

Kata Kunci: Pariwisata Kreatif, Pemasaran Museum, Destination Branding, Museum Geologi


Download

IRRIDEX

IRRIDEX

Pertama-tama kita kembali ke setengah abad lalu, tepatnya 42 tahun lalu, tahun 1975 (dimana pada saat itu sedang trending young movement atau lebih dikenal dengan sebutan Hippie), ternyata dilain sisi terdapat kekhawatiran yang nyata dan berpotensi menimbulkan dampak negatif oleh aktivitas pariwisata pada daerah tujuan wisata. Salah satu ahli yang menyadari akan hal tersebut adalah Doxey dengan teori Irritation Index (Indeks Iritasi) atau disingkat Irridex. Doxey’s Irridex dinilai sebagai hubungan antara wisatawan dengan penduduk setempat. Gagasan utama Irridex muncul bahwa dari waktu ke waktu jumlah wisatawan akan terus meningkat sehingga akan timbul rasa kebencian/ kerisihan yang dirasakan oleh penduduk setempat akan kehadiran wisawatan.



Secara singkat, tahapan yang terjadi pada teori Irridex yaitu sebagai berikut:
# Tahap 1 Euphoria, Wisatawan disambut hangat oleh penduduk setempat dengan persiapan yang sedikit/ seadanya. Wisatawan dianggap sumber ekonomi bagi penduduk setempat.
# Tahap 2 Apathy, Pada tahap ini kunjungan wisatwan mulai meningkat sehingga wisatawan tidak lagi dianggap sebagai sesautu yang baru bagi penduduk setempat, sehingga hubungan yang terjalin antara wisatawan dengan penduduk lokal menjadi lebih formal.
# Tahap 3 Annoyance, Penduduk sekitar pada tahap ini sudah mulai terganggu/ terusik akan kehadiran wisatawan. Berbagai permasalahan mulai bermunculan salah satunya yatu dampak polusi udara akibat kemacetan.
# Tahap 4 Antagonism, Tahap puncak ini mengakibatkan penduduk setempat mengalami kebencian terhadap wisatawan dan pertentangan terhadap sektor pariwisata karena berbagai aktivitas pariwisata dianggap sebagai penyebab terjadinya berbagai permasalahan baik permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan.

Terdapatnya teori Irridex dikarenakan atas dasar bahwa destinasi pariwisata akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Sehingga Irridex menjadi implikasi yang sangat penting bagi destinasi pariwisata terutama bagi destinasi pariwisata yang tidak memiliki kemampuan untuk tumbuh berkembang seiring berjalannya waktu.
Dengan adanya Irridex menunjukan bahwa dari waktu ke waktu penduduk setempat menolak akan kehadiran wisatawan yang mengkibatkan jumlah kunjungan wisatawan tidak akan terus tumbuh seperti pada tahap sebelumnya tetapi akan mengakibatkan penurunan.

Perencanaan Media Sosial untuk Event

Perencanaan Media Sosial untuk Event

 

Persiapan dalam sebuah perhelatan (event) sangat diperlukan, terutama dalam mempersiapkan strategi media sosial. Sebuah perencanaan media sosial untuk event sebaiknya mencakup 5 langkah yang dilakukan secara bertahap. Apa saja ke-5 langkah tersebut? Mari kita pelajari lebih lanjut.

 

#1 Event PIC

Langkah pertama ini memerlukan deskripsi singkat mengenai event yang akan dilaksanakan, berisikan:

  • Nama Event:
  • Tanggal Event:
  • Waktu Event:
  • Manajer Media Sosial:
  • Target yang akan dicapai:
  • #Hastag Event:

 

#2 Rencana Pre-Event

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pre-event (biasanya sekitar 1 bulan sebelum hari ‘H”), yaitu:

  • Membuat timeline untuk mempromosikan event
  • Membuat materi secara visual grafis untuk mensupport event dalam berbagai channel
  • Submit event ke beberapa referensi media event terkemuka
  • Segeralah untuk mengklaim lokasi di foursquare
  • Membentuk tim yang berintegrasi untuk memonitor aktivitas media sosial dan tetap terhubung dengan channel media sosial
  • Hire a photographer

 

#3 Sosialisasi Pre-Event

Implementasi dari perencanaan sebelum event dimulai dimulai sejak 1 hingga 2 minggu sebelum event. Secara singkat teknis rinciannya pada masing-masing platform media sosial dapat dilihat sebagai berikut:

(Note: X = jumlah nominal postingan dalam kurun waktu tertentu)

Facebook

  • X postingan perhari
  • X postingan dalam bentuk visual (meme/ infographic/ komik)
  • X postingan pada media promosi berbayar
  • Berpartisipasi dan/ atau membuat fan page

Instagram

  • X posting foto setiap hari
  • X postingan dalam bentuk visual (meme/ infographic/ komik)

Twitter

  • X Tweets per hari
  • X tweet-an partner event setiap hari
  • X postingan pada media promosi berbayar (re-tweet)
  • Membuat list event termasuk keynotes, rekan dan target market yang akan hadir pada event
  • Membuat private list untuk memonitor pesaing

(Selengkapnya dapat didownload pada tempat di akhir artikel ini)

 

#4 Hari “H”

Hari “H” sering diartikan sebagai hari dimana event tersebut berlangsung. Beberapa aktivitas yang bias dilakukan selama hari “H”, diantaranya melakukan interview peserta, speaker, influencer untuk kebutuhan blog dan konten media sosial. Selain melakan interview selama event berlangsung ada baiknya melakukan aktivitas live report melalui beberapa platform media sosial, seperti:

Facebook

  • X post setiap menit/ jam
  • X post foto setiap menit/jam

Instagram

  • X post setiap menit/ jam

Twitter

  • X tweet setiap menit/ jam
  • X tweet setiap season event (jika dalam event terdapat beberapa bagian)
  • X retweet influencer dan rekan setiap menit/ jam
  • X retweet peserta yang hadir setiap menit/ jam
  • Memonitor hastag dan mentions

(Selengkapnya dapat didownload pada tempat di akhir artikel ini)

 

#5 Post Event

Hal ini dilakukan setelah event, apa saja yang harus dilakukan?

  • Posting setiap content event baik itu video (youtube) dan foto (insta, FB, tweeter)
  • Mengukur kinerja media sosial event melalui hashtracking.com
  • Melalui storify.com kamu bisa melhat the best retweet event.
  • Membuat ringkasan melalui artikel/ blog tentang event
  • X artikel/ blog setiap seasonnya
  • Connect, connect and keep connet dengan peserta yang hadir dan influencer (jangan lupa menyampaikan ucapan terima kasih)

DOWNLOAD: TEMPLATE SOSIAL MEDIA PLAN FOR EVENT

Potensi Geowisata Cekungan Bandung

Potensi Geowisata Cekungan Bandung

Potensi Geowisata pada Kawasan Cekungan Bandung
Shandra Rama Panji Wulung
Program Magister Perencanaan Kepariwisataan
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
Institut Teknologi Bandung
panjiwulung@student.itb.ac.id


 Abstrak

Setiap ilmu memiliki objek penelitian yang unik, salah satunya geowisata. Geowisata berasal dari gabungan dua disiplin ilmu, yakni ilmu bumi dan ilmu pariwisata. Geowisata mencakup pariwisata geologi dan pariwisata geografi. Pada pariwisata geologi memiliki sudut pandang bahwa geowisata adala ilmu yang mempelajari kondisi geologi dan geomorfik dari suatu destinasi wisata. Sedangakan dari sudut pandang pariwisata geografi, geowisata difokuskan mempelajari tentang pemandangan alam dalam suatu wilayah fisik geografi dan keterlibatan dalam pergerakan manusia. Studi mengenenai geowisata mencakup semua isu-isu ilmiah ilmu bumi dari perspektif pariwisata atau semua isu-isu pariwisata dipelajari oleh teori dan metode ilmu bumi, tidak hanya mempelajari objek dari pariwisata (sumber daya pariwisata) tetapi perlu memperhatikan dua subjek lainnya dari pariwisata (pasar pariwisata dan media serta jasa pariwisata dan fasilitas). Dengan kata lain, ketiga elemen pariwisata tersebut memiliki topik keilmuan mengenai bumi dan beberapa ketentuan yang tertunda untuk diekplorasi dan diteliti oleh para peneliti ilmu bumi. Kawasan Cekungan Bandung dijadikan sebagai Wilayah Pengembangan (WP) Kawasan Khusus (KK) di Provinsi Jawa Barat yang meliputi Kota Bandung; Kabupaten Bandung; Kabupaten Bandung Barat; Kota Cimahi dan 5 Kecamatan di Kabupaten Sumedang. Kawasan Cekungan Bandung memiliki sumber daya lingkungan yang melimpah seperti air, tanah, lahan dan keindahan alam dimana salah satunya kegunaannya yaitu untuk aktivitas pariwisata khususnya geowisata. Meskipun demikian belum terdapat studi yang meneliti tentang geowisata di Kawasan Cekungan Bandung, hal itu yang membangkitkan peneliti melakuan studi potensi geowisata di Kawasan Cekungan Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi geowisata di kawasan Cekungan Bandung. Adapun metodologi analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan perolehan data secara sekunder (desk study) mengenai potensi geowisata di kawasan Cekungan Bandung. Hasil penelitian potensi geowisata pada Kawasan Cekungan Bandung terbagi menjadi tiga bagian yaitu Cekungan Bandung Timur (Kab. Bandung dan Kab. Sumedang); Bandung Tengah (Kab. Bandung, Kota Bandung, Kab. Bandung Barat dan Kota Cimahi) dan Cekungan Bandung Barat (Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat)

Kata kunci: Pariwisata Geologi, Pariwisata Geografi, Geowisata, Cekungan Bandung


Download