Categories
Tourism Marketing

Media Sosial untuk Event

Persiapan dalam sebuah perhelatan (event) sangat diperlukan, terutama dalam mempersiapkan strategi media sosial. Sebuah perencanaan media sosial untuk event sebaiknya mencakup 5 langkah yang dilakukan secara bertahap. Apa saja ke-5 langkah tersebut? Mari kita pelajari lebih lanjut.

#1 Event PIC

Langkah pertama ini memerlukan deskripsi singkat mengenai event yang akan dilaksanakan, berisikan:

  • Nama Event                                  :
  • Tanggal Event                               :
  • Waktu          Event                        :
  • Manajer Media Sosial                   :
  • Target yang akan dicapai              :
  • #Hastag Event                              :

#2 Rencana Pre-Event

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pre-event (biasanya sekitar 1 bulan sebelum hari ‘H”), yaitu:

  • Membuat timeline untuk mempromosikan event
  • Membuat materi secara visual grafis untuk mensupport event dalam berbagai channel
  • Submit event ke beberapa referensi media event terkemuka 
  • Segeralah untuk mengklaim lokasi di foursquare
  • Membentuk tim yang berintegrasi untuk memonitor aktivitas media sosial dan tetap terhubung dengan channel media sosial
  • Hire a photographer

#3 Sosialisasi Pre-Event

Implementasi dari perencanaan sebelum event dimulai dimulai sejak 1 hingga 2 minggu sebelum event. Secara singkat teknis rinciannya pada masing-masing platform media sosial dapat dilihat sebagai berikut:

(Note: X = jumlah nominal postingan dalam kurun waktu tertentu)

Facebook

  • X postingan perhari
  • X postingan dalam bentuk visual (meme/ infographic/ komik)
  • X postingan pada media promosi berbayar
  • Berpartisipasi dan/ atau membuat fan page

Instagram

  • X posting foto setiap hari
  • X postingan dalam bentuk visual (meme/ infographic/ komik)

Twitter

  • X Tweets per hari
  • X tweet-an partner event setiap hari
  • X postingan pada media promosi berbayar (re-tweet)
  • Membuat list event termasuk keynotes, rekan dan target market yang akan hadir pada event
  • Membuat private list untuk memonitor pesaing

(Selengkapnya dapat didownload pada tempat di akhir artikel ini)

#4 Hari “H”

Hari “H” sering diartikan sebagai hari dimana event tersebut berlangsung. Beberapa aktivitas yang bias dilakukan selama hari “H”, diantaranya melakukan interview peserta, speaker, influencer untuk kebutuhan blog dan konten media sosial. Selain melakan interview selama event berlangsung ada baiknya melakukan aktivitas live report melalui beberapa platform media sosial, seperti:

Facebook

  • X post setiap menit/ jam
  • X post foto setiap menit/jam

Instagram

  • X post setiap menit/ jam

Twitter

  • X tweet setiap menit/ jam
  • X tweet setiap season event (jika dalam event terdapat beberapa bagian)
  • X retweet influencer dan rekan setiap menit/ jam
  • X retweet peserta yang hadir setiap menit/ jam
  • Memonitor hastag dan mentions

(Selengkapnya dapat didownload pada tempat di akhir artikel ini)

#5 Post Event

Hal ini dilakukan setelah event, apa saja yang harus dilakukan?

  • Posting setiap content event baik itu video (youtube) dan foto (insta, FB, tweeter)
  • Mengukur kinerja media sosial event melalui www.hashtracking.com
  • Melalui www.storify.com kamu bisa melhat the best retweet event.
  • Membuat ringkasan melalui artikel/ blog tentang event
  • X artikel/ blog setiap seasonnya
  • Connect, connect and keep connet dengan peserta yang hadir dan influencer (jangan lupa menyampaikan ucapan terima kasih)
Categories
Tourism Marketing

Citra Destinasi

Pariwisata memiliki karakteristik tangible dan intangible yang artinya produk pariwisata tidak dapat dibawa pulang, sebagaimana mestinya produk industri, produk pariwisata hanya dapat dirasakan, dilihat, dialami dan dinikmati. Kebanyakan produk pariwisata adalah jasa daripada barang fisik (produk) dan hanya dapat bersaing melalui citra.

Terdapat empat implikasi utama bagaimana peren citra pada suatu destinasi yaitu [1]:

#1 Tidak berwujud dan resiko (intangibility and risk)

Pariwisata tidah berwujud, tidak dapat  disentuh, ditukar, disimpan dan dipakai. Pariwisata dapat dirasakan pengalamannya setelah melakukan perjalanan yang sebenarnya. Oleh karena itu terdapat resiko dalam keputusan pembelian jasa pariwisata, diantaranya:

  1. Risiko Pelaksanaan, Cuaca Buruk; Demo Buruh; Pelayanan dibawah standar; Kerusuhan Sipil; Pencurian;  Bencana Alam; Teroris; Kemacetan; Wabah Penyakit; Pertukaran Mata Uang
  2. Risiko Sosial, Risiko sosial dapat terjadi ketika bergabung dengan tur pelatih asing, liburan merupakan interaksi antara penggabungan ke dalam kelompok dan menegaskan individualitas.
  3. Risiko Fisik, Wisatawan tidak hanya menilai risiko bahaya di destinasi, tetapi juga akan mempertimbangkan fasilitas transportasi dan lingkungan perjalanan
  4. Risiko Keungan, Semakin tinggi tingkat keterlibatan dalam keputusan, semakin tinggi risiko yang dirasakan mungkin akan. Contoh: Liburan tahunan.

#2 Ketidakterpisahan dan keberagaman (inseparability and variability)’

Pelanggan secara aktif terlibat dalam pengiriman layanan, karena produksi dan konsumsi terjadi secara bersamaan.  Wisatawan telah mencari keterlibatan yang lebih besar dalam produk pariwisata sebagai peserta bukan sebagai pengamat pasif. Juga, persepsi dari pengalaman dari destinasi yang sama mungkin berbeda antar wisatawan, menyebabkan persepsi wisatawan terhadap nilai yang diberikan oleh destinasi wisata berbeda pula.

#3 Keretanan (perishability)

Pelayanan dari sebuat destinasi bersifat tahan lama, karena hal itu tidak dapat disimpan untuk dijual kemudian. Secara Bisnis pribadi , mereka berusaha mencocokan kapasitas bisnisnya secara berkala dalam memprediksikan manajemen dan promosi penjualan. Untuk DMO ini merupakansuatu tantangan dalam memprediksikan dampak musiman, periode berkala, spesial event dan

#4 Substitusi (substitutability)

Banyaknya daerah tujuan wisata  (destinasi wisata) tidak berarti untuk membangun suatu dearah tujuan wisata yang baru mengakibatkan akan susah untuk mendapatkan wisatawan. Justru dengan DTW baru ini, menjadikan hal yang substitusi (pilihan lain), bagi para wisatawan. Oleh karena itu, dengan wawasan tersebut, DMO perlu untuk menitikberatkan perhatiannya terhadap proses pembentukan citra (Image Formation Process). Proses pembentukan citra, terdiri dari 5 tahap yaitu: (1) The mind’s defense, (2) Associative network memory, (3) Perception in reality, (4) Organic and induced image; dan (5) Cognation, affect and conation. Penjelasan dari proses pembentukan citra dijelaskan berikut ini:

  1. The mind’s defense, Sudut pandang ini menyatakan bahwa  jika konsumen memiliki citra yang kurang baik terhadap  area sekitar destinasi. Maka disitu peran DMO untuk menyederhanakan citra dengan mengembangkan gambar yang disederhankan melalui beberapa cara, misal  campaign melalui media terpercaya.
  2. Associative network memory, hal ini berhubungan dengan panca indra manusia secara fungsional dan psikologis. Setiap destinasi sebaiknya memberikan fitur unik, dimaan wisatawan bisa mengingat secara psikologis .
  3. Perception in reality, hal nyata yang  dirasakan oleh wisatawan yang nyata di konsekuensinya. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan unsur nyata dalam media promosi, seperti video live report dari destinasi dan repost foto spontan yang diunggap oleh wisatawan
  4. Organic and induced image
    Citra Alami: Media masa, pelajaran geografi, Informasi sehari-hari, internet, media sosial , dimana semuanya terjadi secara alami
    Citra PemicuPengaruh promosi DTW yang diarahkan oleh para DMO
  5. Cognation, affect and conation, tahap dalam cograntion  dapat diartikan dalam kepedulian konsumen yang selanjutnya mengarah kepada alternatif pilihan produk dan evaluasi yang terdapat pada tahap affect, sedangkan tahap akhir yaitu conation menjadikan konsumen memilih produk sesuai pemahaman pada tahap-tahap sebelumnya.
KebutuhanMotifLiteratur Pariwisata
PsikologiRelaksasiLari dari rutinitas sehari-hari, istirahat mental dan fisik, menghilangkan ketegangan.
KeamananKeselamatanSehat, rekreasi, menjaga diri dan sehat
Rasa MemilikiKasih SayangKebersamaan bersama keluarga, Peningkatan hubungan kekerabatan, interaksi sosial, pemeliharaan hubungan pribadi, menjaga silaturahmi
PenghargaanStatus dan PencapaianPengakuan sosial, pengembangan pribadi, naik jabatan, pencapaian target penjual, menunjukan pentingnya seseorang kepada orang lain.
Aktualisasi DiriKejujuran pribadiExplorasi dan evaluasi diri, menemukan jati diri, keinginan batin
KeingintahuanPengetahuanKultural, edukasi, ketertarikan pada area asing, suka tantangan
EstetikaApresiasi keindahanLingkungan, pemandangan

Selain itu terdapat pula tahapan yang disebut dengan AIDAS (Attention, interest, desire, action dan satisfaction) dimana pada tahap pertama wisatawan akan menaruh perhatiannya (attention) pada suatu destinasi yang memiliki citra baik, selanjutnya wisatawan akan tertarik (interest) pada destinasi tetapi tidak mengunjungainya, hingga timbul hasrat atau niat (desire) wisatwan untuk mengunjungi destinasi (action) dan ternyata wisatawan terpenuhi kebutuhan akan berwisata sesuai citra merek destinasi tersebut (satisfaction) [2].

Ketika termotivasi untuk bertindak, wisatawan menjadi pembuat keputusan. Wisatawan menentukan langkah dalam mengambil keputusan berkunjung kesebuah destinasi melalui beberapa tahap, diantaranya:

  1. Tidak tersedia dan tidak menyadari akan terdapatnya destinasi pariwisata
  2. Kesadaran
  3. Peduli dan tidak peduli
  4. Opini
  5. Rumor
  6. Pemilihan Destinasi

Keputusan harus dibuat berdasarkan Kemana kita akan pergi? Kapan? Bagaimana untuk mencapainya? dan apa yang akan dilakukan disana?

Categories
Tourism Tourism Marketing

Lake Tourism

# Danau

Secara etimologi kata danau (lake) berasal dari daerah Inggris bagian tengah yang artinya lake/ danau (kolam/ tambak (lake pond), saluran air (waterway)), dari daerah Inggris Tua yang artinya lacu (kolam (pond), kolam renang (pool) dan aliran sungai (stream)) dan juga terkait dengan kata-kata Bahasa inggris bocor (leak) dan resapan (leach). Itilah danau juga digunakan untuk mendeskripsikan suatu ciri/ fitur layaknya Danau Erya, dimana danau tersebut berasal dari cekungan yang kering tetapi dengan berjalannya waktu cekungan kering tersebut menjadi penuh akan air disebabkan oleh kondisi dari musim penghujan [1].

Pendefinisian danau sebagai tubuh dari air berdasarkan lima karakteristik sebagai berikut [1]:

  1. Sebagian atau seluruh isi danau mengisi satu atau beberapa cekungan yang dihubungkan dengan selat;
  2. Pada dasarnya memilki tingkat air yang sama di semua bagian (kecuali untuk tinkat air yang relatif singkat yang disebabkan oleh angin, lapiran es, arus air dan lain-lain);
  3. Danau tidak memiliki intrusi regular/ campuran dari air laut;
  4. Sebagian besar dari sendimen tersuspensi dalam air yang ditangkap oleh cekungan (untuk hal ini terhadu danau perlu memilki aliran masuk yang relative kecil untuk rasio volume)
  5. Area danau diukur pada tingkat air rata-rata (misal, satu hektar).

Sementara untuk jenis-jenis danau terbagi menjadi 15 jenis, yaitu  [1]:

  1. Periglacial Lake, bagian pinggiran danau yang terbentuk dari lapisan es, ditutupi oleh es atau gletser, es tersebut menghalangi drainase alami dari daratan.
  2. Subglacial Lake, danau yang permanen tertutup oleh es yang terdapat dibawah gletser. Contoh danau yang terbesar adalah Danau Vostok di Antartika.
  3. Glacial Lake, danau yang diciptakan oleh banjir pada sebuah bendungan yang disebut waduk serta dilakukan penggalian oleh manusia atau oleh banjir dari sebuah insiden penggalian untuk operasi ektraksi mineral, seperti tambang terbuka.
  4. Meromictic Lake, danau yang memiliki lapiran air yang tidak tercampur. Lapisan terdalam dari air di danau tersebut tidak mengandung larutan oksigen.
  5. Fjord lake, sebuah danau di lembah glasial yang terkikis di bawah permukaan laut.
  6. Oxbow lake, danau yang terbentuk ketika liku lebar dari sungai atau sungai yang dipotong untuk membentuk sebuah danau.
  7. Rift Lake atau Sag Pond, sebuah danau yang terbentuk sebagi hasil dari penurunan sepanjang patanhan geologi di lempeng tektonik bumi.
  8. Underground Lake, danau yang terbentuk di bawah permukaan kerak bumi. Danau tersebut dapat berhubungan dengan beberapa gua, akuifer atau mata air.
  9. Crater Lake, danau yang terbentuk dari kaldera gunung berapi atau kawah setelah gunung berapi tersebut tidak aktif selama beberapa waktu.
  10. Lava Lake, kolam lava cair yang terkandung dalam kawah gunung berapi atau depresi lainnya. Danau lava yang telah beku baik sebagian maupun keseluruhan sepenuhnya dipadatkan juga disebut sebagai danau lava.
  11. Former, sebuah danau yang sudah tidak ada. Danau tersebut termasuk danau prasejarah dan danau yang telah secara permanen kering melalui pengupan atau campir tangan manusia.
  12. Ephermeral Lakeintermittent lake atau seasonal lake, danau musiman yang ada sebagi badan air selama hanya beberapa tahun.
  13. Shrunken, erat kaitannya dengan former lake (bekas danau) yang merupakan salah satu mengalami penyusutan secara drastic dalam kurun waktu geologi.
  14. Vlei, di Afrika Selatan, danau dangkal yang sangat bervariasi dengan musim.
  15. Ephishelf Lake, danau unik yang ada di atas tubuh air asin yang padat dan dikelilingi oleh es. Sebagian besar danau ini terdapat di Antartika

# Pariwisata Danau

Beberapa istilah juga telah digunakan mengenai pariwisata yang sumber daya utamannya yaitu air termasuk wisata bahari, wisata sungai, wisata kanal, wisata pantai, wisata berbasis marina dan baru-baru ini wisata danau. Sebagai alternatifnya, di Negara Kanada memiliki Canada Lake Tourism sering dianggap sebagai suatu pondok negara (cottage country) karena terdapatnya cottage danau. Pariwisata danau biasanya merupakan sebuah desa wisata (rural tourism) dimana pariwisata dnau sangat terkait dengan kegiatan pedesaan seperti memancing, berperahu dan pengembangan garis pantai oleh karena itu area pedesaan dijadikan sebagai pintu masuk atau pusat layanan untuk pariwisata danau [2]

Pariwisata danau sudah menjadi fokus utama dalam kegiatan rekreasi dan pariwisata, tetapi penelitian mengenai pariwisata danau secara internasional muncul pada awal tahun 2000-an. Sebagai contoh terdapat Konferensi Internasional Pariwisata Danau pertama pada bulan Juni 2003 yang memandang bahwa terdapat empat tema danau dalam pariwisata yaitu:

  1. Danau sebagai destinasi wisata,
  2. Alam dan budaya sebagai sumber daya dalam pengembangan pariwisata danau,
  3. Perencanaan dan pengelolaan pada pembangunan destinasi danau, dan
  4. Layanan nilai tambah dan marketing pada destinasi danau.

# Dampak Pariwisata Danau

Danau yang dijadikan sebagai suatu destinasi pariwisata menimbulkan beberapa dampak, pariwisata dapat berdampak terhadap kualitas danau dengan adanya bagian hulu pemanfatan lahan, peningkatan urbanisasi, infrastruktur limbah, sumber polusi dan minimnya pengelolaan limbah yang tidak memadai serta penggunaan sumber daya danau yang berlebihan. Dampak pariwisata danau biasanya berasal dari:

  1. Sejumlah aktivitas rekreasi (berenang, berperahu dan memancing);
  2. Sumber yang bukan berasal dari pariwisata (sungai membawa bahan kimia pertanian yang beracun dan makluk hidup dari batuan sendimen allochthonous, termasuk bakteria pathogen yang terbawa ke danau sehingga berpotensi merusak kualitas air dan lingkungan danau;
  3. Polusi dan limbah industri (berdampak tidak hanya pada mahluk hidup yang berada di danau, tetapi pada binatang lain yang terhubung ke dalam rantai makanan, termasuk manusia;
  4. Penyakit yang ditularkan melalui air (waterborne diseases), hal itu berpotensi bagi para pengguna danau (wisatawan dan masyarakat setempat).

Sementara itu pariwisata danau berdampak terhadap wisatawan yang berkunjung, pengalaman wisawatan selama berwisata danau kedalam suatu model pengalaman wisatawan (The Tourist Experience Model), sebagai berikut:

 Danau sebagai tempat aktivitasDanau sebagai sistem sosialDanau sebagai wilayah emosionalBagi danau itu sendiri
InterpretasiSebagai tempat hiburan, rekreasi dan pemulihanTempat untuk berinteraksi dengan keluarga dan temanMenyatu dengan lingkungan hidupPenggabungan dari lingkungan fisik, budaya dan danau itu sendiri
Tingkah lakuKetidakpedulian terhadap lingkungan baik menyadari maupun tidak menyadariFokus pengalaman berpusat pada hubungan socialMerasakan kesejahteraan/ kenyamananKeterikatan yang kuat untuk lanskap dan budaya
Sikap terhadap lingkunganKurangnya minat belajar lebih banyak tentang alam atau sejarah budayaKadaan fisik tidak relevanKekaguman terhadap lingkungan yang berbeda dari biasanya.Destinasi dianggap sebagai tempat yang lebih baik dibanding lingkungan rumah

Source:

[1] Henkel, M. (2015): 21st Century Homestead: Sustainable Agriculture II: Farming and Natural Resources, Lulu. com.

[2] Gartner W.C. (2006): Planning and management of lake destination development: Lake gateways in Minnesota, In Hall, C.M. dan T. Härkönen (Eds.): Lake Tourism. An Integrated Approach to Lacustine Tourism Systems, 167–181. Channel View Publications, Clevedon, Buffalo, Toronto.

[3] Tuohino, A. (2015): In Search of the Sense of Finnish Lakes: A Geographical Approach to Lake Tourism Marketing, Geographical Society of Northern Finland, Volume 44:5, Nordia Geographical Publications, Finlandia.