Categories
Geowisata Tourism Planning

REINTERPRETASI GEOWISATA CEKUNGAN BANDUNG

Pariwisata berbasis alam merupakan bentuk pariwisata yang menggunakan sumber daya alam sebagai daya tarik utamanya dan didukung oleh unsur pariwisata sebagai aktivitasnya, salah satu manifestasinya yaitu geowisata yang memiliki karakteristik alam berdasarkan unsur geologi dan lanskap. Geowisata muncul sebagai salah satu bentuk pariwisata alternatif berbasis alam yang menjadi fenomena secara global mau- pun nasional. Sementara itu, di Wilayah Cekungan Bandung geowisata selain menawarkan pengalaman baru yang edu- katif bagi wisatawan dengan mengenalkan aspek lingkungan geologi, juga menjadi bentuk pariwisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung.

Penetapan pariwisata berbasis alam sebagai salah satu ben- tuk daya tarik wisata (DTW) unggulan di wilayah Cekungan Bandung belum sepenuhnya diarahkan kepada geowisata, dikarenakan adanya ketidak- pahaman terhadap ruang lingkup geowisata. Secara umum geowisata di wilayah Cekungan Bandung diklasifi- kasikan dalam bentuk DTW berbasis alam pada arahan kebijakan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisatan Provinsi (Ripparprov) Jawa Barat dan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisata- an Kabupaten (Ripparkab) Bandung Barat. Berbeda dengan arahan kebijakan yang termuat dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Rippda) Kabupaten Bandung yang mengarahkan pariwisata berbasis alam dalam bentuk geowisata dengan adanya arahan pengemba- ngan 3 (tiga) kawasan wisata berbasis alam, yaitu Kawasan Geowisata Panas Bumi Kamo- jang, Kawasan Geowisata Cimenyan-Cilengkrang (Sesar Lembang), dan Kawasan Geowisata Bekas Kawah Purba (Kawah Putih).
Silahkan baca lebih lanjut melalui tautan unduh berikut ini.

Sumber:
Wulung, SRP. 2018. Reinterpretasi Geowisata Cekungan Bandung. dalam Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan, Institut Teknologi Bandung. 2018. Geowisata Nusantara. Warta Pariwisata, 16 (3).

Categories
Tourism Tourism Planning

PLOG 1973

Adalah seorang psikolog asal Amerika yang memperkenalkan teori psikologi wisatawan, relevansi teori tersebut masih dipakai hingga saat ini. Konsep Psychology of Tourists yang dipublikasikan pada tahun 1973 memiliki peran yang sangat penting dalam mengklasifikasikan tipe wisatawan, psychocentric dan allocentric.

Secara psikologi terdapat wisatawan yang kurang nyaman dengan lingkungan atau budaya baru/ unfamiliar. Hal tersebut berpengaruh terhadap perencanaan liburannya, mereka akan mencari tempat yang familiar/ mainstream. Tipikal wisatawan tersebut adalah psycho-centric. Sedangkan kelompok lain yang suka akan tantangan dalam mencari destinasi baru yang masih jarang bahkan belum pernah di datangi oleh banyak orang atau dengan kata lain mencari tempat yang unfamiliar/ antimainstream, mereka bertipikal wisatawan allocentric.

Seorang psychocentric tidak akan melakukan perjalanan yang jauh dari lingkungan rumahnya/ lingkungan yang dia kenal, sementara seorang allocentric akan bepergian jauh ke suatu tempat yang mereka belum pernah datangi.

Diluar pengklasifikasian tersebut, terkadang terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran wisatawan satu sama lain. Salah satu contoh, seorang psychocentric akan menjadi allocentric ketika tidak terdapat akomodasi (hotel) pada destinasi yang dituju sehingga dia bermalam di homestay/ rumah warga/ tenda. Posisi tersebut disebut midcentric.

5 faktor yang mempengaruhi karakteristik wisatawan:

  1. Segment Pasar, Psychocentric, menghindari resiko, ketergantungan, mencari kenyamanan. Allocentric, suka akan tantangan, mencari pengalaman baru, travel with passion
  2. Daya Tarik Wisata, Psychocentricbased on built attraction such as theme park, city tour and other favorable, while Allocentric prefer traveling to an authentic destination such as historical, cultural and nature with strong interaction to local residents
  3. Akomodasi, Psychocentric, hotel atau resort yang memilki brand chain internasional/ lokal, sementara Allocentric lebih memilih akomodasi dalam skala yang kecil seperti homestay, bed and breakfast hingga tenda.
  4. Status Ekonomi, Psychocentric, cenderung mendominasi destinasi secara perlahan. Allocentric memilki pengaruh linkage yang kuat dan meminimalisir leakage.
  5. Regulasi, Psychocentric, support for free market with short term profitability dan dominasi oleh perusahaan. Allocentric, actually monitored by local community.

Sebagai tambahan, berikut istilah-istilah lain yang dapat digunakan:

  • Psychocentric = mainstream = mass/ conventional tourism = group tourists
  • Allocentric  = antimainstream = alternative/ niche tourism = backpacker tourists
Categories
Tourism Planning

Jadi, Kamu ingin membuat infografik?

Infrografik atau visualisasi data adalah salah satu cara yang efektif untuk mengkomunikasikan sebuah informasi. Ya, infografik memang sangat berguna dan sangat beautiful. Infografik akan lebih efektif dimana dilakukan dengan perancanaan dan monitoring yang tepat. 

Berikut terdapat 4 tahap kreatif dalam membuat infografik yang informatif dan nyaman dilihat mata, semoga bermanfaat.

#1 BRAINSTORMING

Tahap pertama dari semua proses kreatif, Brainstorming. Pahami informasi sperti apa yang Kamu punya: apakah bertipe spasial? Krinologi? Kuantitatif? Atau gabungan dari ketiganya? Mengidentifikasi sebuah data dapat membati Kamu dan tim desain dalam menentukan mau seperti apa nantinya infografik yang Kamu butuhkan. Sebelum memikirkan mengenai “mau didesain seperti apa infografisnya?” Kamu harus tau betul apa tujuan Kamu membuat infografik tersebut.

Bekerjalah dengan team kamu dalam merumuskan gagasan yang brilian untuk infografik. Beberapa pertanyaan berikut dapat membantumu:

  1. Berapa banyak data yang kamu punya?
  2. Elemen dasar apa yang akan Kamu gunakan?
  3. Melalui infografik, kamu ingin menginformasikan apa mengajak/ persuasi?
  4. Siapa segment utamanya?
  5. Apa inti dari infografik yang Kamu buat?

# SELEKSI DATA

Memilah data yang akan disajikan memang harus menjadi suatu upaya bersama-sama antara tim yang mendesign data dan mensupply data. Bagaimana selera Kamu dan selera segmen yang akan kamu bidik mengenai penyajian data menentukan keberhasilan infografik kamu. Terdapat 3 tipe penyajian data yaitu:

  • Diagram, digunakan untuk mengilustrasikan garis waktu dari sebuah kejadian, proses step by step, atau rangkaian kegiatan dan hubungan sebab akibat.
  • Map, digunakan untuk mendemonstrasikan sebuah lokasi dari sesuatu dalam hubungannya kepada sesuatu hal lainnya atau sajian data kuantitatif terkait lokasi geografis.
  • Chart, digunakan untuk menunjukan ukuran dinamika. Hubungan distribusi atau proses organisasi

# DESAIN DAN PERENCANAAN

Jalin hubungan dengan seseorang yang memiliki keahlian dalam komunikasi digital terkait urusan publik. Atur meeting bersamanya dan diskusikan terkait rencana skala komunikasi untuk infografikmu. Dengan itu kamu dapat menciptakan bahkan mengimplementasikan suatu infografik yang tepat sasaran. Disaat infografik ter-schedule dengan mantap, temanmu yang ahli dalam komunikasi digital akan mendesain infografikmu berdasarkan data yang tersedia.

# DLL 

  • Buat sebuah cerita. Semua cerita pasti memiliki awal dan akhir. Disaat menulis konten infografik, identifikasi isu serta dukungan data yang tersedia dan akhiri dengan kesimpulan dari infografikmu.
  • Integrasikan antara tim komunikasi digital dan desain. Tidak disarankan untuk melakukan proses desain terlebih dahulu sebelum tim komunikasi digital membuat perencanaan dan ringkasan kreatif.
  • Siapkan sebanyak mungkin informasi dengan segera dan lakukan rancangan tersebut  lalu lakukan pertimbangan mengenai perspektif orang lain mengenai data yang akan kamu sajikan.
  • Jangan lupa menampilkan sumber data yang akan kamu sajikan dalam infografik.

Categories
Tourism Tourism Planning

MANAGING SUSTAINABLE TOURISM IN PLANNING AND POLICY

Globally tourism sectors become one of the largest economic, such rapid growth and its concurrent development practices have put particular pressure on sustainable tourism planning and policy. In taking all necessary steps to ensure the protection and enhancement of the natural and built environments through sustainable tourism management. Positive sustainable tourism development is dependent on forward looking policies and new management philosophies that seek harmonious relations between local communities, the private sector, not for-profit organizations, academic institutions, and governments at all levels to develop practices that protect natural, built, and cultural environments in a way compatible with economic growth. Pangandaran, Sleman and Lombok are three destinations in Indonesia received awards from UNWTO’s sustainable tourism development. Ultimately, properly managed sustainable tourism will add far more than its cost in effort and planning to the quality of life of local communities, visitors and tourism employees alike.