Categories
Tourism

Pariwisata Alternatif: Tolak Ukur Konsep Keberlanjutan

Perkembangan kepariwisataan saat ini dipengaruhi oleh beberapa perspektif beragam mulai dari opini individu hingga kajian terdahulu pada pertengahan abad ke-20, berbagai pandangan tersebut teridentifikasi secara bertahap ke dalam lima fase yaitu advocacy, cautionary, adaptancy, knowledge-based, dan public1. Fase tersebut dikenal sebagai platforms Jafari atau fase kepariwisataan yang berguna dalam memahami berbagai pandangan mengenai kepariwistaan saat ini, khususnya terkait pariwisata alternatif.

Prospek perekonomian global pasca perang dunia kedua ditandai dengan adanya dukungan yang kuat terhadap sektor pariwisata baik dari sisi pemerintah maupun swasta. Perspektif tersebut muncul pada periode tahun 1950-1960 dan dikenal sebagai fase advocacy dan menjadikan pariwisata sebagai penyelamat perekonomian2. Pada fase ini peran pemerintah memfasilitasi pertumbuhan kepariwisataan melalui perancangan regulasi dan menjaga ketertiban hukum, hal tersebut dilakukan karena pariwisata dapat memberikan kontribusi baik bagi ekonomi, sosial dan lingkungan serta diyakini sebagai alternatif perekonomian. Namun seiring dengan berjalannya waktu, terdapat dampak negatif yang diakibatkan oleh aktivitas pariwista baik dari sisi ekonomi maupun non-ekonomi (sosial, budaya, dan lingkungan) (Tabel 1). Pengembangan kepariwistaan mengakibatkan munculnya biaya ekonomi, sosial dan lingkungan yang berdampak pada masyarakat setempat destinasi pariwisata pada periode 1960-19703 dan disebut sebagai fase cautionary. Ekspansi pengembangan kepariwisataan yang cepat mengakibatkan aktivitas pariwisata menjadi masal dan tidak terkendali, sehingga membutuhkan pengendalian dan peraturan terkait pengembangan destinasi pariwisata. Fase cautionary sesuai dengan model siklus hidup destinasi pariwisata4 dapat dideskripsikan bahwa pada tahap paling dasar yaitu ekplorasi, aktivitas pariwisata cenderung diabaikan karena rendahnya dampak yang dihasilkan. Reaksi dari masyarakat setempat terhadap pertumbuhan positif aktivitas pariwisata menimbulkan transisi menuju tahap keterlibatan, pada akhirnya membutuhkan pengembangan destinasi yang cepat akan permintaan pasar yang meningkat. Selama tahap pengembangan, aktivitas pariwisata menjadi masal yang berdampak negatif sehingga menyebabkan krisis daya dukung lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi pada destinasi pariwisata (Tabel 1). Hingga pada akhirnya terdapt dua skenario yang akan terjadi, (1) destinasi pariwisata akan mengalami tahap penurunan jika pada tahap konsolidasi dan stagnasi tidak dilakukan intervensi perbaikan dan (2) destinasi pariwisata akan mengalami tahap peremajaan jika tindakan perbaikan dilakukan dengan baik.

Tabel 1       Dampak pariwisata dalam fase advocacy dan cautionary3.

Fase AdvocacyFase Cautionary
Menghasilkan pendapatan langsung.Menghasilkan pendapatan tidak langsung (multiplier effect dan hubungan dengan sektor lainnya).Menciptakan lapangan pekerjaan.Mendorong pembangunan daerah. Tingginya kinerja global.Mempromosikan pemahaman antar budaya.Membantu melestarikan lingkungan alam, sosial, dan budaya.Pendapatan musiman dan biaya (pemasaran, administrasi, infrastruktur, dan insentif).Terciptanya kebocoran karena import barang dan jasa serta pendapatan yang kembali ke daerah asal perusahaan/ repatriasi pendapatan.Pekerjaan yang dibayar murah, musiman, dan paruh waktu.Pariwisata belum tentu menjadi alternatif terbaik.Fluktuasi kinerja pada tingkat nasional dan lokal.Konflik antar budaya akibat disparitas.Komodifikasi kebudayaan, kriminalitas, dan degradasi lingkungan 

Fase cautionary yang mengidentifikasikan dampak negatif aktivitas pariwisata masal belum menghasilkan solusi dalam mengatasi dampak negatif tersebut (Tabel II.1), sehingga pada periode tahun 1970-1980 muncul fase adaptancy yang mendorong terciptanya bentuk pengembangan pariwisata yang dapat meminimalisasikan dampak negatif akibat aktivitas pariwisata. Berbagai bentuk alternatif pengembangan pariwisata mendorong terbentuknya fase ketiga yaitu adaptancy, fase ini memperkenalkan istilah pariwisata alternatif sebagai bentuk alternatif pariwisata masal dengan skala dan pengelolaan secara lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat5

Pengembangan pariwisata alternatif belum sepenuhnya mengatasi volume pergerakan pariwisata masal secara global, bentuk dan pelaksanaan pariwisata dapat dikendalikan sedangkan volume pergerakannya tidak dapat dibatasi. Perspektif tersebut membawa perkembangan pemikiran pariwisata secara keseluruhan (struktur, fungsi, dan pengetahuan multidisiplin) kepada fase knowledge-based pada awal 1990-an. Fase ini merupakan pendekatan holistik dan sistematis yang memanfaatkan metode ilmiah dalam mengumpulkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menilai dan mengelola pariwisata dengan benar. 

Pariwisata global mengalami pertumbuhan yang signifikan sehingga membutuhkan pemahaman terkait kebijakan, pengembangan, dan industri pariwisata. Perspektif tersebut merupakan fase public yang merupakan pembentukan jabatan institusional yang terintegrasi antar institusi dan industri dalam skala daerah hingga global terkait perkembangan kepariwisataan. Fase public memberikan pendekatan holistik yang berperan penting untuk pendidikan pariwisata, penelitian, dan kemajuan pengetahuan6

Gambar 2 Fase kepariwisataan global

Sumber:

  1. Jafari, J. (2007). Entry into a new field of study: Leaving a foot print. In D. Nash (Ed.), The study of tourism: Anthropological and sociological beginnings          (pp. 108–121). Amsterdam: Elsevier
  2. Jafari, J. (1990). Research and scholarship: The Basis of Tourism   Education. Journal of Tourism Studies1(1), 33-41.
  3. Weaver, D. B. (2006). Sustainable Tourism: Theory and practice, Elsevier Butterworth Heinemann, Oxford, Britania Raya.
  4. Butler, R. W. (1980). The concept of a tourist area cycle of evolution: implications for management of resources. The Canadian Geographer, 24(1), 5-12.
  5. Weaver, D. B., dan Lawton, L. (2014). Tourism Management fifth edition, John    Wiley and Sons, Australia.
  6. Xiao, H. (2013). Jafar Jafari: The Platform Builder, Anatolia: An International      Journal of Tourism and Hospitality Research, 24(2), 288-296.
Categories
Tourism

KOMPONEN KEPARIWISATAAN

Pariwisata tidak sekedar pelayanan jasa yang diberikan oleh para industri pariwisata (hotel, restoran, biro perjalanan wisata, dan lainnya) kepada wisatawan sebagai bentuk pemehuman mereka selama berada di destinasi wisata, tetapi terdapat faktor penting lainnya dalam mendukung keberhasilan suatu wilayah sebagai destinasi pariwisata. Faktor-faktor tersebut  dikenal sebagai komponen dasar kepariwisataan atau 5A yang terdiri dari elemen daya tarik wisata (attraction), aksesibilitas (accessibility), aminitas (amenities), aktivitas (activity), dan layanan pendukung pariwisata (ancillary services).

# Attraction

Atraksi atau daya tarik wisata (DTW) memiliki peran dalam memotivasi dan menjadi faktor penarik utama bagi wisatawan dalam menentukan destinasi mereka. DTW tersebut didasarkan kepada sumber daya alam dan hasil buatan manusia, beberapa tersebut diantaranya: keindahan alam, tempat-tempat bersejarah, monument, kebun binatang, theme park, museum, taman nasional, desa wisata, hingga keindahan bahari.

# Accessibility

Aksesibilitas disini diartikan sebagai sarana dalam memudahkan wisatawan agar bisa mencapai daya tarik wisata berada. Sementara dalam artian lainnya, aksesibilitas pariwisata merupakan seperangkat layanan dan fasilitas bagi wisatawan yang memiliki kebutuhan khusus agar bisa menikmati liburan dan waktu senggangnya tanpa hambatan atau masalah tertentu. Implementasi dari aksesibilitas pariwisata diantaranya transportasi public yang aman dan nyaman, kondisi jalan raya yang memadai, fasilitas parkir di tempat wisata, integrasi antara moda transportasi dengan daya tarik wisata, ketersediaan moda transportasi darat, laut, dan udara, hingga jalur pejalanan kaki dan pesepeda.

 # Amenities

Aminitas menjadi layanan dan fasilitas dasar bagi wisatawan saat mereka berada di destinasi pariwisata. Layanan dan fasilitas tersebut bentuknya khusus ditujukan untuk wisatawan, diantaranya akomodasi, restoran, pusat informasi wisata.

# Activities

Selama wisatawan berada di destinasi pariwisata, berbagai layanan kegiatan yang tersedia dan ditawarkan kepada wisatawan seperti di lingkungan bahari penyedia jasa menawarkan aktivitas menyelam, berselancar, dan berlayar. Sementara itu di taman wisat alam, penyedia menyediakan jasa pemandu wisata untuk kegiatan hiking atau bahkan sekedar melihat dan mengamati flora dan fauna. 

# Ancillary services

Layanan pendukung pariwisata menjadi elemen yang perlu untuk diperhatikan dalam menunjang kegiatan pariwisata di suatu destinasi. Layanan tersebut secara tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi para wisatawan selama di destinasi, diantaranya bank, telekomunikasi, rumah sakit, hingga pusat perbelanjaan. 

Sumber:

  • Cooper, Chris. 2012. Essentials of Tourism. Pearson Education Limited
  • Holloway, Christopher, J & Humphreys, Claire. 2012. The Business of Tourism. Pearson Education Limited
  • Buhalis, D. (2000). Marketing the competitive destination of the future. Tourism management, 21(1), 97-116.
Categories
Geowisata Tourism

Geowisata Cekungan Bandung

Geowisata secara luas mencapkup ilmu geografi yang konteksnya meliputi sosial, ekonomi dan budaya dimana hal tersebut termasuk kedalam pariwisata geografi (Stueve dkk., 2002). Sedangkan Downing (2011) memaparkan bahwa geowisata pada dasarnya merupakan pariwisata geologi yang fokus terhadap elemen geologi dan bentang alam yaitu bentuk (bentang alam, jenis batuan, sendimen, tanah dan kristal) dan proses (vulkanik, erosi, glasiasi dan lainnya). Pemahaman lebih luas dipaparkan oleh Chen dkk. (2016) bahwa geowisata tidak hanya mencakup ilmu geologi, geografi dan pariwisata tetapi juga merupakan hasil interaksi sebab akitab dari ketiga ilmu tersebut yang disebut sebagai geowisata. Geowisata merupakan suatu ilmu multidisiplin yang bersasal dari disiplin ilmu geologi, geografi dan pariwisata.

Geowisata merupakan ilmu multidisiplin yang mengunakan teori dan metode ilmu bumi dan mengacu kepada esensi dari disiplin ilmu lainnya dalam memenuhi kebutuhan survey, evaluasi, perencanaan, pengembangan, pengelolaan dan perlindungan sumber daya pariwisata, sehingga dapat menyokong perkembangan pariwisata. (Chen dkk., 2016). Tujuan yang mendasari Geowisatadiantaranya untuk menciptakan dan meningkatkan destinasi pariwisata yang mudah diakses, ramah lingkungan, informatif dan menarik pada pengembangan pariwisata suatu wilayah perekonomian (Chen dkk., 2016).

Cekungan Bandung merupakan cekungan besar apabila dikaitkan dengan jajaran pegunungan disekitarnya. Secara geologi lebih dikenal sebagai Cekungan Bandung (Bandung Basin). Cekungan Bandung memiliki sumber geologi yang melimpah berupa energi, lingkungan, dan mineral. Sumber daya lingkungan, mulai dari air, tanah, lahan, dan keindahan alam sebagian besar sudah dipergunakan untuk sarana pemukiman, pariwisata, industri, dan kebutuhan hidup lainnya. (Bronto dan Hartono, 2006).

Konsep geowisata

Secara sudut pandang pariwisata geologi dapat diartikan bahwa geowisata sebagai ilmu yang mempelajari kondisi geologi dan geomorfik dari tempat-tempat wisata (destinasi pariwisata) dan sudut pandang ini berfokus pada pembuatan suatu penelitian tentang pariwisata geologi oleh profesional geologi sehingga hasil penelitian yang berupa pengetahuan geologi disebarkan bagi dan dinikmati oleh para wisatawan. Selain itu pariwisata geologi disebut juga sebagai panorama geologi, lanskap geologi, taman geologi, tempat wisata geologi dan sebagainya (Chen dkk., 2016). Padangan ini kemudian dikembangkan dengan menyertakan ekplorasi dan evaluasi sumber daya pariwisata geologi sebagai suatu objek penelitian pariwisata geologi dalam upaya untuk menyediakan sumber daya pariwisata. Hingga saat ini masyarakat pada umumnya masih beranggapan bahwa geowisata itu adalah pariwisata geologi.

Sedangkan geowisata dalam sudut pandang pariwisata geografi difokuskan pada penelitian tentang pemandangan alam itu sendiri yang pada dasarnya dalam wilayah geografi fisik serta melibatkan geografi manusia dan ilmu-ilmu sosial lainnya yang tidak hanya secara langsung menyajikan kepada wisatawan mengenai bimbingan ilmiah, menyebarkan pengetahuan ilmiah, memperkenalkan tempat-tempat penting tetapi juga menyajikan pariwisata dalam bentuk penelitian dan pengembangan yang berbasis pariwisata, rektifikasi lahan nasional dan pemeliharaan lingkungan (Chen dkk., 2016).

Analisis

Potensi geowisata di Cekungan Bandung sangat dipengaruhi oleh sumber daya geologi pada kawasan tersebut. Secara fisik, bentang alam wilayah Bandung dan sekitarnya yang termasuk ke dalam Cekungan Bandung, merupakan cekungan berbentuk lonjong (elips) memanjang berarah timur tenggara – barat barat laut. Cekungan Bandung sendiri dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian timur, tengah, dan barat. Cekungan Bandung bagian timur dimulai dari dataran Nagreg sampai dengan Cicalengka; bagian tengah membentang dari Cicalengka hingga Cimahi – kompleks perbukitan Gunung Lagadar, dan cekungan bagian barat terletak di antara Cimahi – Batujajar hingga Cililin dan Waduk Saguling (Bronto dan Hartono, 2006). 

Categories
Tourism Tourism Planning

PLOG 1973

Adalah seorang psikolog asal Amerika yang memperkenalkan teori psikologi wisatawan, relevansi teori tersebut masih dipakai hingga saat ini. Konsep Psychology of Tourists yang dipublikasikan pada tahun 1973 memiliki peran yang sangat penting dalam mengklasifikasikan tipe wisatawan, psychocentric dan allocentric.

Secara psikologi terdapat wisatawan yang kurang nyaman dengan lingkungan atau budaya baru/ unfamiliar. Hal tersebut berpengaruh terhadap perencanaan liburannya, mereka akan mencari tempat yang familiar/ mainstream. Tipikal wisatawan tersebut adalah psycho-centric. Sedangkan kelompok lain yang suka akan tantangan dalam mencari destinasi baru yang masih jarang bahkan belum pernah di datangi oleh banyak orang atau dengan kata lain mencari tempat yang unfamiliar/ antimainstream, mereka bertipikal wisatawan allocentric.

Seorang psychocentric tidak akan melakukan perjalanan yang jauh dari lingkungan rumahnya/ lingkungan yang dia kenal, sementara seorang allocentric akan bepergian jauh ke suatu tempat yang mereka belum pernah datangi.

Diluar pengklasifikasian tersebut, terkadang terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran wisatawan satu sama lain. Salah satu contoh, seorang psychocentric akan menjadi allocentric ketika tidak terdapat akomodasi (hotel) pada destinasi yang dituju sehingga dia bermalam di homestay/ rumah warga/ tenda. Posisi tersebut disebut midcentric.

5 faktor yang mempengaruhi karakteristik wisatawan:

  1. Segment Pasar, Psychocentric, menghindari resiko, ketergantungan, mencari kenyamanan. Allocentric, suka akan tantangan, mencari pengalaman baru, travel with passion
  2. Daya Tarik Wisata, Psychocentricbased on built attraction such as theme park, city tour and other favorable, while Allocentric prefer traveling to an authentic destination such as historical, cultural and nature with strong interaction to local residents
  3. Akomodasi, Psychocentric, hotel atau resort yang memilki brand chain internasional/ lokal, sementara Allocentric lebih memilih akomodasi dalam skala yang kecil seperti homestay, bed and breakfast hingga tenda.
  4. Status Ekonomi, Psychocentric, cenderung mendominasi destinasi secara perlahan. Allocentric memilki pengaruh linkage yang kuat dan meminimalisir leakage.
  5. Regulasi, Psychocentric, support for free market with short term profitability dan dominasi oleh perusahaan. Allocentric, actually monitored by local community.

Sebagai tambahan, berikut istilah-istilah lain yang dapat digunakan:

  • Psychocentric = mainstream = mass/ conventional tourism = group tourists
  • Allocentric  = antimainstream = alternative/ niche tourism = backpacker tourists
Categories
Tourism Tourism Planning

MANAGING SUSTAINABLE TOURISM IN PLANNING AND POLICY

Globally tourism sectors become one of the largest economic, such rapid growth and its concurrent development practices have put particular pressure on sustainable tourism planning and policy. In taking all necessary steps to ensure the protection and enhancement of the natural and built environments through sustainable tourism management. Positive sustainable tourism development is dependent on forward looking policies and new management philosophies that seek harmonious relations between local communities, the private sector, not for-profit organizations, academic institutions, and governments at all levels to develop practices that protect natural, built, and cultural environments in a way compatible with economic growth. Pangandaran, Sleman and Lombok are three destinations in Indonesia received awards from UNWTO’s sustainable tourism development. Ultimately, properly managed sustainable tourism will add far more than its cost in effort and planning to the quality of life of local communities, visitors and tourism employees alike.