Categories
Geowisata

KOTAK GEOWISATA: Warisan Ilmu, Warisan Bumi

“Warisan Ilmu, Warisan Bumi” saya pilih jadi jargon tulisan ini yang secara tidak langsung  memiliki makna berarti buat saya. Warisan ilmu di sini diartikan sebagai sesuatu yang, intangible, diturunkan langsung dari seorang guru kepada muridnya. Siapa gurunya? Yang jelas muridnya saya sendiri, sedangkan sang guru yaitu (Alm) Dr. Ir. Budi Brahmantyo, Msc., lebih akrab disebut Bubrah dan Budi Bumi. Selain seorang dosen, almarhum juga saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par-ITB) dan Ketua Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI). Salah satu mata kuliah yang digagas oleh almarhum yaitu Geowisata, dari sanalah saya diarahkan untuk dibimbing oleh almarhum, mengingat ruang lingkup materi thesis saya terkait dengan geowisata. Officially saya bertemu almarhum pada akhir bulan Mei 2017 dan mulai intens bimbingan sejak bulan Agustus 2017 hingga akhirnya saya lulus sidang awal Januari 2018. Sebelumnya memang saya sering mendengar nama almarhum sebagai salah satu ahli geowisata di Indonesia, dan memang secara tidak langsung itu sudah jalannya saya bertemu dengan almarhum.

Foto pertama di awal bimbingan, Agustus 2017

Warisan ilmu apa yang saya dapatkan? 

Secara umum ilmu yang saya dapatkan tidak selalu terkait dengan dunia perkulian, dalam artian terdapat pula ilmu How to Live Life to the Fullest? (Saya beri julukan “Amanat Bubrah”). Seperti pentingnya menjaga kesehatan dengan cara almarhum, lari dan bersepeda, alhasil dampak positif yang saya dapatkan dengan mencoba bersepeda, dan taunya ketagihan :D. Di sisi lain juga penting untuk menjaga agama dan menghargai orang lain dengan cara menyapa dan tetap tersenyum. Sedangkan secara khusus ilmu yang didapatkan terkait konsep dari ruang lingkup geowisata, yaitu Konsep Kotak Geowisata. Kotak Geowisata menjadi acuan dasar dalam mengidentifikasikan warisan geologi (geoheritage) – dalam tulilsan ini diistilahkan sebagai “Warisan Bumi”-, mengingat warisan bumi adalah keragaman geologi (geodiversity) yang memiliki nilai tinggi yang perlu dilindungi dan diwariskan untuk generasi yang akan datang. Warisan bumi yang memiliki nilai tinggi salah satunya yang memiliki nilai wisata untuk dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata berbasis geologi atau Daya Tarik Geowisata (DTG).

Daya Tarik Geowisata (DTG) merupakan sesuatu yang memiliki keunikan proses dan bentuk dari geologi dan geomorfologi dengan didukung oleh unsur pariwisata yang menjadi tujuan kunjungan geowisatawan (sumber).

Konsep Kotak Geowisata memiliki peran penting sebagai acuan terbentuknya DTG berdasarkan sifat dan ruang lingupnya. Konsep ini sangat sederhana, almarhum memodifikasi konsep sifat dan ruang linkup geowisata-nya Newsome dan Dowling (2006) yang mencakup proses, bentuk, dan pariwisata dengan menambahkan 3 elemen lainnya yaitu geodasar, geohistory, dan geo +. Modifikasi tersebut didasarkan bahwa geowisata juga melibatkan aspek non-geologi yang masih memiliki keterikatan dengan aspek geologi, seperti flora, fauna, budaya, arkeologi, sejarah, hingga legenda dan mitos. Secara keseluruhan konsep kotak geowisata mencakup 6 elemen yaitu 1) proses, 2) bentuk, 3) pariwisata, 4) geodasar, 5) geohistory, dan 6) geo +. Untunk menyempurnakan Kotak Geowisata tersebut, elemen ke-3 yaitu pariwisata saya adaptasikan berdasarkan perspektif saya.

Lebih lanjut almarhum bercerita bahwa konsep sebelumnya memiliki bentuk kotak 3D/ kubus yang terlihat hanya 3 sisi (proses, bentuk, dan pariwisata), dan almarhum penasaran lalu berkata “3 sisi lainnya ko gakelihatan ya?”. Dari situlah muncul inisiatif untuk menambahkan 3 sisi lainnya, sehingga kubus tersebut terbuka hingga terlihat 6 sisi persegi dan diberi nama Kotak Geowisata (Gambar 2). 

Kotak Geowisata [1]

 Secara singkat 6 elemen Kotak Geowisata tersebut dijelaskan berikut ini.

  1. Proses, merupakan aktivitas geologi dan geomorfologi yang dapat diamati saat terjadi aktivitas vulkanik, banjir dari aliran sungai, serta longsor.
  2. Bentuk mempresentasikan bentang alam (tebing, gunung berapi, lanskap karst, dan lingkungan gersang), muka bumi (fitur glasial, fluvial, pesisir pantai, hingga kipas aluvial), dan singkapan batuan.
  3. Pariwisata pada kotak geowisata haruslah terintegrasi dengan baik, secara keseluruhan elemen pariwisata yang terdapat pada kotak geowisata mencakup indikator 1) atraksi, 2) aksesibilitas, 3) amenitas, 4) aktivitas, dan 5) perencanaan dan manajemen. Secara rinci elemen pariwisata tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
  4. Geodasar adalah pengetahuan dasar ilmu kebumian yang memiliki peran penting dalam memahami bentuk dan proses peristiwa geologi yang disampaikan melalui interpretasi aktif (pemandu wisata) dan pasif (buku panduan, brosur, dan internet)
  5. Geohistorymerupakan penjelasan tentang kisah suatu peristiwa terkait tokoh-tokoh khususnya geologiwan yang mencatatkan/ mengkaji suatu wilayah.
  6. Geo + merupakan faktor pendukung kegiatan geowisata seperti keterkaitan antara geologi dan arkeologi, fenomena geologi yang menjadi legenda dan mitos mayarakat setempat, flora dan fauna pada daya tarik geowisata, serta keterkaitan daya tarik geowisata terhadap sejarah, sosial, dan budaya masyarakat setempat.

Di hari-hari terakhinya, setelah saya lulus dan selagi menunggu wisata, almarhum memberikan kesempatan untuk saya sebagai Asdos dan sempat menggantikannya untuk mengajar. Pengalaman yang berharga, terima kasih Pak Bubrah.

Sumber:
[1] Wulung, S. R. P. (2018). Spatial Model Analysis of Bandung Basin Geotourism Destination. Institut Teknologi Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *