Categories
Geowisata Tourism Planning

REINTERPRETASI GEOWISATA CEKUNGAN BANDUNG

Pariwisata berbasis alam merupakan bentuk pariwisata yang menggunakan sumber daya alam sebagai daya tarik utamanya dan didukung oleh unsur pariwisata sebagai aktivitasnya, salah satu manifestasinya yaitu geowisata yang memiliki karakteristik alam berdasarkan unsur geologi dan lanskap. Geowisata muncul sebagai salah satu bentuk pariwisata alternatif berbasis alam yang menjadi fenomena secara global mau- pun nasional. Sementara itu, di Wilayah Cekungan Bandung geowisata selain menawarkan pengalaman baru yang edu- katif bagi wisatawan dengan mengenalkan aspek lingkungan geologi, juga menjadi bentuk pariwisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung.

Penetapan pariwisata berbasis alam sebagai salah satu ben- tuk daya tarik wisata (DTW) unggulan di wilayah Cekungan Bandung belum sepenuhnya diarahkan kepada geowisata, dikarenakan adanya ketidak- pahaman terhadap ruang lingkup geowisata. Secara umum geowisata di wilayah Cekungan Bandung diklasifi- kasikan dalam bentuk DTW berbasis alam pada arahan kebijakan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisatan Provinsi (Ripparprov) Jawa Barat dan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisata- an Kabupaten (Ripparkab) Bandung Barat. Berbeda dengan arahan kebijakan yang termuat dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Rippda) Kabupaten Bandung yang mengarahkan pariwisata berbasis alam dalam bentuk geowisata dengan adanya arahan pengemba- ngan 3 (tiga) kawasan wisata berbasis alam, yaitu Kawasan Geowisata Panas Bumi Kamo- jang, Kawasan Geowisata Cimenyan-Cilengkrang (Sesar Lembang), dan Kawasan Geowisata Bekas Kawah Purba (Kawah Putih).
Silahkan baca lebih lanjut melalui tautan unduh berikut ini.

Sumber:
Wulung, SRP. 2018. Reinterpretasi Geowisata Cekungan Bandung. dalam Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan, Institut Teknologi Bandung. 2018. Geowisata Nusantara. Warta Pariwisata, 16 (3).

Categories
Geowisata

GEOWISATA BAHARI PESISIR TIMUR NATUNA

Kisah terdamparnya awak kapal Rusia dan legenda kapal berubah menjadi batu merupakan bagian dari daya tarik geowisata di pesisir timur Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna. Kisah dan legenda tersebut merupakan faktor pendukung geowisata yang dikenal dengan elemen Geo+ dalam Kotak Geowisata, mengingat geowisata tidak hanya menjadikan unsur geologi dan geomorfologi sebagai daya tarik utamanya tetapi juga melibatkan unsur sejarah, budaya, serta legenda/ mitos masyarakat setempat sebagai unsur pendukung DTG. Pesisir timur Kabupaten Natuna merupakan bagian dari Paparan Sunda dan masuk dalam wilayah Cekungan Timur Natuna. Sama halnya dengan Bangka, Belitung, dan wilayah kepulauan Riau lainnya, Kabupaten Natuna berada pada jalur timah yang dibawa oleh jalur batolitgranitioid-granatik yg berumur Trias. Pulau Bunguran sebagai pulau terbesar di Kabupaten Natuna memiliki Kawasan Batu Sindu di Tanjung Senubing geomorfologi berupa perbukitan yg terbentang dari arah barat laut–tenggara dengan Gunung Ranai sebagai puncak tertingginya.

Daya tarik geowisata pesisir timur Natuna didominasi bebatuan besar yang memiliki cerita unik dan menarik untuk dipelajari mulai dari Batu Kapal, Batu Sindu, Batu Rusia, dan Alif Stone Park. Sebelum melakukan aktivitas geowisata atau geotrek, geowisatawan dapat menikmati kuliner khas Natuna di Kota Ranai seperti Tabel Mando dan Pedek atau hanya sekedar menikmati keindahan Batu Kapal han Pantai Kencana dengan ditemani secangkir racikan kopi khas Melayu yang jaraknya 5 menit dari Bandara Ranai. Selain itu, di Kota Ranai sudah ramai dengan adanya fasilitas bagi geowisatawan seperti hotel, penyewaan kendaraan, biro perjalanan wisata, pusat informasi wisata, dan pramuwisata. Hal tersebut menjadikan Kota Ranai sebagai pusat layanan pariwisata di Kabupaten Natuna.

Jarak tempuh dari pusat layanan pariwisata menuju daya tarik geowisata pertama (Batu Kapal) berjarak 3 km dengan waktu tempuh selama 10 menit. Sebelum menuju Batu Kapal, geowisatawan dapat melihat kemegahan Masjid Agung Natuna. Sementara itu DTG kedua (Batu Sindu) dan ketiga (Batu Rusia) yang memiliki jarak yang berdeka- tan dengan Batu Kapal. Alif Stone Park sebagai daya tarik geowisata terakhir memiliki jarak yang cukup jauh dari pusat layanan pariwisata dengan jarak tempuh sejauh 7 km atau sekitar 30 menit. Sebagai daya tarik pendukung geowisata, tidak jauh dari Alif Stone Park, geowisatawan dapat mengunjungi Pulau Senoa dan Pantai Tanjung. Lebih lanjut penjelasan empat daya tarik geowisata di pesisir timur Natuna dapat didownload di bawah ini.

Sumber:
Wulung, SRP. 2018. Geowisata Bahari Pesisir Timur Natuna. dalam Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan, Institut Teknologi Bandung. 2018. Pesona Bahari Nusantara. Warta Pariwisata, 16 (2).

Categories
Geowisata

KOTAK GEOWISATA: Warisan Ilmu, Warisan Bumi

“Warisan Ilmu, Warisan Bumi” saya pilih jadi jargon tulisan ini yang secara tidak langsung  memiliki makna berarti buat saya. Warisan ilmu di sini diartikan sebagai sesuatu yang, intangible, diturunkan langsung dari seorang guru kepada muridnya. Siapa gurunya? Yang jelas muridnya saya sendiri, sedangkan sang guru yaitu (Alm) Dr. Ir. Budi Brahmantyo, Msc., lebih akrab disebut Bubrah dan Budi Bumi. Selain seorang dosen, almarhum juga saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par-ITB) dan Ketua Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI). Salah satu mata kuliah yang digagas oleh almarhum yaitu Geowisata, dari sanalah saya diarahkan untuk dibimbing oleh almarhum, mengingat ruang lingkup materi thesis saya terkait dengan geowisata. Officially saya bertemu almarhum pada akhir bulan Mei 2017 dan mulai intens bimbingan sejak bulan Agustus 2017 hingga akhirnya saya lulus sidang awal Januari 2018. Sebelumnya memang saya sering mendengar nama almarhum sebagai salah satu ahli geowisata di Indonesia, dan memang secara tidak langsung itu sudah jalannya saya bertemu dengan almarhum.

Foto pertama di awal bimbingan, Agustus 2017

Warisan ilmu apa yang saya dapatkan? 

Secara umum ilmu yang saya dapatkan tidak selalu terkait dengan dunia perkulian, dalam artian terdapat pula ilmu How to Live Life to the Fullest? (Saya beri julukan “Amanat Bubrah”). Seperti pentingnya menjaga kesehatan dengan cara almarhum, lari dan bersepeda, alhasil dampak positif yang saya dapatkan dengan mencoba bersepeda, dan taunya ketagihan :D. Di sisi lain juga penting untuk menjaga agama dan menghargai orang lain dengan cara menyapa dan tetap tersenyum. Sedangkan secara khusus ilmu yang didapatkan terkait konsep dari ruang lingkup geowisata, yaitu Konsep Kotak Geowisata. Kotak Geowisata menjadi acuan dasar dalam mengidentifikasikan warisan geologi (geoheritage) – dalam tulilsan ini diistilahkan sebagai “Warisan Bumi”-, mengingat warisan bumi adalah keragaman geologi (geodiversity) yang memiliki nilai tinggi yang perlu dilindungi dan diwariskan untuk generasi yang akan datang. Warisan bumi yang memiliki nilai tinggi salah satunya yang memiliki nilai wisata untuk dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata berbasis geologi atau Daya Tarik Geowisata (DTG).

Daya Tarik Geowisata (DTG) merupakan sesuatu yang memiliki keunikan proses dan bentuk dari geologi dan geomorfologi dengan didukung oleh unsur pariwisata yang menjadi tujuan kunjungan geowisatawan (sumber).

Konsep Kotak Geowisata memiliki peran penting sebagai acuan terbentuknya DTG berdasarkan sifat dan ruang lingupnya. Konsep ini sangat sederhana, almarhum memodifikasi konsep sifat dan ruang linkup geowisata-nya Newsome dan Dowling (2006) yang mencakup proses, bentuk, dan pariwisata dengan menambahkan 3 elemen lainnya yaitu geodasar, geohistory, dan geo +. Modifikasi tersebut didasarkan bahwa geowisata juga melibatkan aspek non-geologi yang masih memiliki keterikatan dengan aspek geologi, seperti flora, fauna, budaya, arkeologi, sejarah, hingga legenda dan mitos. Secara keseluruhan konsep kotak geowisata mencakup 6 elemen yaitu 1) proses, 2) bentuk, 3) pariwisata, 4) geodasar, 5) geohistory, dan 6) geo +. Untunk menyempurnakan Kotak Geowisata tersebut, elemen ke-3 yaitu pariwisata saya adaptasikan berdasarkan perspektif saya.

Lebih lanjut almarhum bercerita bahwa konsep sebelumnya memiliki bentuk kotak 3D/ kubus yang terlihat hanya 3 sisi (proses, bentuk, dan pariwisata), dan almarhum penasaran lalu berkata “3 sisi lainnya ko gakelihatan ya?”. Dari situlah muncul inisiatif untuk menambahkan 3 sisi lainnya, sehingga kubus tersebut terbuka hingga terlihat 6 sisi persegi dan diberi nama Kotak Geowisata (Gambar 2). 

Kotak Geowisata [1]

 Secara singkat 6 elemen Kotak Geowisata tersebut dijelaskan berikut ini.

  1. Proses, merupakan aktivitas geologi dan geomorfologi yang dapat diamati saat terjadi aktivitas vulkanik, banjir dari aliran sungai, serta longsor.
  2. Bentuk mempresentasikan bentang alam (tebing, gunung berapi, lanskap karst, dan lingkungan gersang), muka bumi (fitur glasial, fluvial, pesisir pantai, hingga kipas aluvial), dan singkapan batuan.
  3. Pariwisata pada kotak geowisata haruslah terintegrasi dengan baik, secara keseluruhan elemen pariwisata yang terdapat pada kotak geowisata mencakup indikator 1) atraksi, 2) aksesibilitas, 3) amenitas, 4) aktivitas, dan 5) perencanaan dan manajemen. Secara rinci elemen pariwisata tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
  4. Geodasar adalah pengetahuan dasar ilmu kebumian yang memiliki peran penting dalam memahami bentuk dan proses peristiwa geologi yang disampaikan melalui interpretasi aktif (pemandu wisata) dan pasif (buku panduan, brosur, dan internet)
  5. Geohistorymerupakan penjelasan tentang kisah suatu peristiwa terkait tokoh-tokoh khususnya geologiwan yang mencatatkan/ mengkaji suatu wilayah.
  6. Geo + merupakan faktor pendukung kegiatan geowisata seperti keterkaitan antara geologi dan arkeologi, fenomena geologi yang menjadi legenda dan mitos mayarakat setempat, flora dan fauna pada daya tarik geowisata, serta keterkaitan daya tarik geowisata terhadap sejarah, sosial, dan budaya masyarakat setempat.

Di hari-hari terakhinya, setelah saya lulus dan selagi menunggu wisata, almarhum memberikan kesempatan untuk saya sebagai Asdos dan sempat menggantikannya untuk mengajar. Pengalaman yang berharga, terima kasih Pak Bubrah.

Sumber:
[1] Wulung, S. R. P. (2018). Spatial Model Analysis of Bandung Basin Geotourism Destination. Institut Teknologi Bandung.

Categories
Tourism

Pariwisata Alternatif: Tolak Ukur Konsep Keberlanjutan

Perkembangan kepariwisataan saat ini dipengaruhi oleh beberapa perspektif beragam mulai dari opini individu hingga kajian terdahulu pada pertengahan abad ke-20, berbagai pandangan tersebut teridentifikasi secara bertahap ke dalam lima fase yaitu advocacy, cautionary, adaptancy, knowledge-based, dan public1. Fase tersebut dikenal sebagai platforms Jafari atau fase kepariwisataan yang berguna dalam memahami berbagai pandangan mengenai kepariwistaan saat ini, khususnya terkait pariwisata alternatif.

Prospek perekonomian global pasca perang dunia kedua ditandai dengan adanya dukungan yang kuat terhadap sektor pariwisata baik dari sisi pemerintah maupun swasta. Perspektif tersebut muncul pada periode tahun 1950-1960 dan dikenal sebagai fase advocacy dan menjadikan pariwisata sebagai penyelamat perekonomian2. Pada fase ini peran pemerintah memfasilitasi pertumbuhan kepariwisataan melalui perancangan regulasi dan menjaga ketertiban hukum, hal tersebut dilakukan karena pariwisata dapat memberikan kontribusi baik bagi ekonomi, sosial dan lingkungan serta diyakini sebagai alternatif perekonomian. Namun seiring dengan berjalannya waktu, terdapat dampak negatif yang diakibatkan oleh aktivitas pariwista baik dari sisi ekonomi maupun non-ekonomi (sosial, budaya, dan lingkungan) (Tabel 1). Pengembangan kepariwistaan mengakibatkan munculnya biaya ekonomi, sosial dan lingkungan yang berdampak pada masyarakat setempat destinasi pariwisata pada periode 1960-19703 dan disebut sebagai fase cautionary. Ekspansi pengembangan kepariwisataan yang cepat mengakibatkan aktivitas pariwisata menjadi masal dan tidak terkendali, sehingga membutuhkan pengendalian dan peraturan terkait pengembangan destinasi pariwisata. Fase cautionary sesuai dengan model siklus hidup destinasi pariwisata4 dapat dideskripsikan bahwa pada tahap paling dasar yaitu ekplorasi, aktivitas pariwisata cenderung diabaikan karena rendahnya dampak yang dihasilkan. Reaksi dari masyarakat setempat terhadap pertumbuhan positif aktivitas pariwisata menimbulkan transisi menuju tahap keterlibatan, pada akhirnya membutuhkan pengembangan destinasi yang cepat akan permintaan pasar yang meningkat. Selama tahap pengembangan, aktivitas pariwisata menjadi masal yang berdampak negatif sehingga menyebabkan krisis daya dukung lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi pada destinasi pariwisata (Tabel 1). Hingga pada akhirnya terdapt dua skenario yang akan terjadi, (1) destinasi pariwisata akan mengalami tahap penurunan jika pada tahap konsolidasi dan stagnasi tidak dilakukan intervensi perbaikan dan (2) destinasi pariwisata akan mengalami tahap peremajaan jika tindakan perbaikan dilakukan dengan baik.

Tabel 1       Dampak pariwisata dalam fase advocacy dan cautionary3.

Fase AdvocacyFase Cautionary
Menghasilkan pendapatan langsung.Menghasilkan pendapatan tidak langsung (multiplier effect dan hubungan dengan sektor lainnya).Menciptakan lapangan pekerjaan.Mendorong pembangunan daerah. Tingginya kinerja global.Mempromosikan pemahaman antar budaya.Membantu melestarikan lingkungan alam, sosial, dan budaya.Pendapatan musiman dan biaya (pemasaran, administrasi, infrastruktur, dan insentif).Terciptanya kebocoran karena import barang dan jasa serta pendapatan yang kembali ke daerah asal perusahaan/ repatriasi pendapatan.Pekerjaan yang dibayar murah, musiman, dan paruh waktu.Pariwisata belum tentu menjadi alternatif terbaik.Fluktuasi kinerja pada tingkat nasional dan lokal.Konflik antar budaya akibat disparitas.Komodifikasi kebudayaan, kriminalitas, dan degradasi lingkungan 

Fase cautionary yang mengidentifikasikan dampak negatif aktivitas pariwisata masal belum menghasilkan solusi dalam mengatasi dampak negatif tersebut (Tabel II.1), sehingga pada periode tahun 1970-1980 muncul fase adaptancy yang mendorong terciptanya bentuk pengembangan pariwisata yang dapat meminimalisasikan dampak negatif akibat aktivitas pariwisata. Berbagai bentuk alternatif pengembangan pariwisata mendorong terbentuknya fase ketiga yaitu adaptancy, fase ini memperkenalkan istilah pariwisata alternatif sebagai bentuk alternatif pariwisata masal dengan skala dan pengelolaan secara lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat5

Pengembangan pariwisata alternatif belum sepenuhnya mengatasi volume pergerakan pariwisata masal secara global, bentuk dan pelaksanaan pariwisata dapat dikendalikan sedangkan volume pergerakannya tidak dapat dibatasi. Perspektif tersebut membawa perkembangan pemikiran pariwisata secara keseluruhan (struktur, fungsi, dan pengetahuan multidisiplin) kepada fase knowledge-based pada awal 1990-an. Fase ini merupakan pendekatan holistik dan sistematis yang memanfaatkan metode ilmiah dalam mengumpulkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menilai dan mengelola pariwisata dengan benar. 

Pariwisata global mengalami pertumbuhan yang signifikan sehingga membutuhkan pemahaman terkait kebijakan, pengembangan, dan industri pariwisata. Perspektif tersebut merupakan fase public yang merupakan pembentukan jabatan institusional yang terintegrasi antar institusi dan industri dalam skala daerah hingga global terkait perkembangan kepariwisataan. Fase public memberikan pendekatan holistik yang berperan penting untuk pendidikan pariwisata, penelitian, dan kemajuan pengetahuan6

Gambar 2 Fase kepariwisataan global

Sumber:

  1. Jafari, J. (2007). Entry into a new field of study: Leaving a foot print. In D. Nash (Ed.), The study of tourism: Anthropological and sociological beginnings          (pp. 108–121). Amsterdam: Elsevier
  2. Jafari, J. (1990). Research and scholarship: The Basis of Tourism   Education. Journal of Tourism Studies1(1), 33-41.
  3. Weaver, D. B. (2006). Sustainable Tourism: Theory and practice, Elsevier Butterworth Heinemann, Oxford, Britania Raya.
  4. Butler, R. W. (1980). The concept of a tourist area cycle of evolution: implications for management of resources. The Canadian Geographer, 24(1), 5-12.
  5. Weaver, D. B., dan Lawton, L. (2014). Tourism Management fifth edition, John    Wiley and Sons, Australia.
  6. Xiao, H. (2013). Jafar Jafari: The Platform Builder, Anatolia: An International      Journal of Tourism and Hospitality Research, 24(2), 288-296.
Categories
Geowisata Tourism

Geowisata Cekungan Bandung

Geowisata secara luas mencapkup ilmu geografi yang konteksnya meliputi sosial, ekonomi dan budaya dimana hal tersebut termasuk kedalam pariwisata geografi (Stueve dkk., 2002). Sedangkan Downing (2011) memaparkan bahwa geowisata pada dasarnya merupakan pariwisata geologi yang fokus terhadap elemen geologi dan bentang alam yaitu bentuk (bentang alam, jenis batuan, sendimen, tanah dan kristal) dan proses (vulkanik, erosi, glasiasi dan lainnya). Pemahaman lebih luas dipaparkan oleh Chen dkk. (2016) bahwa geowisata tidak hanya mencakup ilmu geologi, geografi dan pariwisata tetapi juga merupakan hasil interaksi sebab akitab dari ketiga ilmu tersebut yang disebut sebagai geowisata. Geowisata merupakan suatu ilmu multidisiplin yang bersasal dari disiplin ilmu geologi, geografi dan pariwisata.

Geowisata merupakan ilmu multidisiplin yang mengunakan teori dan metode ilmu bumi dan mengacu kepada esensi dari disiplin ilmu lainnya dalam memenuhi kebutuhan survey, evaluasi, perencanaan, pengembangan, pengelolaan dan perlindungan sumber daya pariwisata, sehingga dapat menyokong perkembangan pariwisata. (Chen dkk., 2016). Tujuan yang mendasari Geowisatadiantaranya untuk menciptakan dan meningkatkan destinasi pariwisata yang mudah diakses, ramah lingkungan, informatif dan menarik pada pengembangan pariwisata suatu wilayah perekonomian (Chen dkk., 2016).

Cekungan Bandung merupakan cekungan besar apabila dikaitkan dengan jajaran pegunungan disekitarnya. Secara geologi lebih dikenal sebagai Cekungan Bandung (Bandung Basin). Cekungan Bandung memiliki sumber geologi yang melimpah berupa energi, lingkungan, dan mineral. Sumber daya lingkungan, mulai dari air, tanah, lahan, dan keindahan alam sebagian besar sudah dipergunakan untuk sarana pemukiman, pariwisata, industri, dan kebutuhan hidup lainnya. (Bronto dan Hartono, 2006).

Konsep geowisata

Secara sudut pandang pariwisata geologi dapat diartikan bahwa geowisata sebagai ilmu yang mempelajari kondisi geologi dan geomorfik dari tempat-tempat wisata (destinasi pariwisata) dan sudut pandang ini berfokus pada pembuatan suatu penelitian tentang pariwisata geologi oleh profesional geologi sehingga hasil penelitian yang berupa pengetahuan geologi disebarkan bagi dan dinikmati oleh para wisatawan. Selain itu pariwisata geologi disebut juga sebagai panorama geologi, lanskap geologi, taman geologi, tempat wisata geologi dan sebagainya (Chen dkk., 2016). Padangan ini kemudian dikembangkan dengan menyertakan ekplorasi dan evaluasi sumber daya pariwisata geologi sebagai suatu objek penelitian pariwisata geologi dalam upaya untuk menyediakan sumber daya pariwisata. Hingga saat ini masyarakat pada umumnya masih beranggapan bahwa geowisata itu adalah pariwisata geologi.

Sedangkan geowisata dalam sudut pandang pariwisata geografi difokuskan pada penelitian tentang pemandangan alam itu sendiri yang pada dasarnya dalam wilayah geografi fisik serta melibatkan geografi manusia dan ilmu-ilmu sosial lainnya yang tidak hanya secara langsung menyajikan kepada wisatawan mengenai bimbingan ilmiah, menyebarkan pengetahuan ilmiah, memperkenalkan tempat-tempat penting tetapi juga menyajikan pariwisata dalam bentuk penelitian dan pengembangan yang berbasis pariwisata, rektifikasi lahan nasional dan pemeliharaan lingkungan (Chen dkk., 2016).

Analisis

Potensi geowisata di Cekungan Bandung sangat dipengaruhi oleh sumber daya geologi pada kawasan tersebut. Secara fisik, bentang alam wilayah Bandung dan sekitarnya yang termasuk ke dalam Cekungan Bandung, merupakan cekungan berbentuk lonjong (elips) memanjang berarah timur tenggara – barat barat laut. Cekungan Bandung sendiri dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian timur, tengah, dan barat. Cekungan Bandung bagian timur dimulai dari dataran Nagreg sampai dengan Cicalengka; bagian tengah membentang dari Cicalengka hingga Cimahi – kompleks perbukitan Gunung Lagadar, dan cekungan bagian barat terletak di antara Cimahi – Batujajar hingga Cililin dan Waduk Saguling (Bronto dan Hartono, 2006).